Setahun Pasca Bencana, Seniman dan Budayawan Bersih-Bersih Taman Budaya Palu

Kegiatan bersih-bersih Taman Budaya Palu pada hari Sabtu (14/9).

Hampir setahun paska bencana alam di Palu, Sigi dan Donggala, Kompleks Taman Budaya Palu yang berdiri relatif dekat dari bibir Pantai Talise, daerah terdampak Tsunami, praktis tanpa aktifitas berkesenian. Betapa tidak, bangunan dengan ruang berkesenian yang biasanya riang penuh energi itu, yang melahirkan sejuta karya besar seniman Palu, nampak suram dan menyeramkan. Hal tersebut mendorong Seniman-Budayawan Palu melakukan kegiatan ‘Bersih Bersih Taman Budaya Palu’.

Lahamudin Yoto, yang menginisiasi kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa kegiatan bersih-bersih dilakukan untuk mengembalikan fungsi bangunan tersebut sebagai Taman Budaya. “Kalau bukan kita bekerja untuk kita, maka tempat ini akan menjadi barang rongsokan. Tempat ini seperti rumah hantu di tengah kota, tidak pernah dibersihkan baik oleh pegawainya sendiri maupun pemerintah yang berkepentingan,” tegas Lahamudin (14/9/2019) di Palu.

Tuaka Lahamudin, begitu beliau disapa para seniman, dengan nada tegas, menekankan bahwa revitalisasi Taman Budaya Palu mutlak dilakukan oleh para aktivis seni. Ia mengungkapkan, Taman Budaya Palu banyak melahirkan seniman-seniman besar dengan karya-karya yang luar biasa, yang sampai detik ini tersimpan dalam memori masyarakat Palu.

“Kami berharap, setelah aksi bersih-bersih ini, semoga pemerintah pusat dan daerah bisa bekerja lebih cepat dari kami, untuk segera merevitalisasi secara menyeluruh seluruh bagian dari Taman Budaya ini,” tandas Tuaka Lahamudin, yang diamini seluruh pekerja seni yang hadir.

Diantara yang mereka yang hadir adalah, para seniman veteran serta pekerja seni milenial, seniman pelajar dari Teater Spontan SMA Negeri 1 Palu, serta aktivis seni Emhan Saja dan Arifin Sunusi, inisiator lainnya yang menjadi penggerak para seniman.

“Bisu tak bersuara itulah kondisi obyektif Taman Budaya Palu paska bencana setahun lalu, hingga saat ini,” tandas Emhan Saja, setiap kali melintasi lokasi Taman Budaya di wilayah bagian barat Palu.

“Kondisinya sangat berantakan. Sebagian besar atap bangunan dan besi penyanggah lenyap dijarah oleh oknum yg tak bertanggung jawab,” tukas Emhan dengan nada geram, karena selama ini tak ada pengamanan melekat disekitar lokasi.

Lahamudin Yoto, inisiator acara beraih-bersih Taman Budaya Palu
Lahamudin Yoto, inisiator acara beraih-bersih Taman Budaya Palu

Kegiatan bersih bersih tersebut berlangsung selama 2 hari, sampai pada Hari Minggu. Mereka nampak bekerja penuh semangat, dengan harapan agar gedung kesenian yang menjadi saksi bisu kejayaan karya para pekerja seni di Taman Budaya Palu, kembali hidup dan bersuara, tepat setahun paska bencana Pasigala, pada 28 September 2019 mendatang.

“Insha Allah, tepat setahun nanti, kami akan menghelat pertunjukan seni di gedung kesenian Taman Budaya Palu, termasuk membuat dialog terbuka bersama masyarakat agar bergotong royong mencari cara dan celah, untuk merevitalisasi Taman Budaya ini,” papar Emhan, yang baru saja tampil dalam Festival Payung Indonesia di Prambanan.

Kegiatan bersih-bersih ini, menurut Arifin Sunusi, dimana ia bersama Lahamudin Yoto, menjadi penyemangat kegiatan tersebut, menuturkan bahwa “Gagasan bersih-bersih ini, selain untuk memperingati setahun paska bencana tsunami, likuifaksi dan gempa bumi 7,8 skala richer itu, juga dimaksudkan untuk menyalakan kembali api berkesenian yang sudah padam selama setahun di Taman budaya akibat terjangan tsunami”.

Ditambahkan Arifin, Koordinator PP Ikatan Keluarga Alumni Universitas Tadulako itu, bahwa Taman Budaya, adalah dapurnya para aktivitas para pekerja seni, seperti teater, musik, tari, sastra serta giat pelatihan seni lainnya. Kondisi tersebut harus dikembalikan lagi seperti semula, dimana semua kegiatan berkesenian berlabuh disana, baik pada skala lokal, nasional bahkan hingga level internasional.

Wakil Ketua DPRD Kota Palu 1999 – 2009 tersebut, kemudian berharap agar inisiatif “Bersih Bersih Taman Budaya agar Kembali Bersuara” itu, mendapat respon dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, serta partisipasi masyarakat untuk bersama-sama menghidupkan kembali aktifitas berkesenian disana.

“Pada bagian depan yang rusak parah adalah kaca-kaca jendela, pintu masuk jebol, serta beberapa bagian bangunan roboh. Sementara bagian pada bagian dalam gedung, semua fasilitas pertunjukan lenyap, kecuali panggung presidium. Namun kondisinya tak layak lagi untuk tempat pertunjukan yang ideal. Paling parah, tak ada aliran listrik dan penerangan. Pada malam hari kondisinya sangat gelap dan menyeramkan. Jika dibiarkan, kami khawatir ini lokasi bisa dijadikan kegiatan negatif,” tegas terang Emhan Saja, yang tak henti mengitari gedung sembari mengamati satu persatu bagian yang rusak.

Baik seniman senior Lahamudin Yoto, Arifin Sunusi, Emhan Saja, para seniman veteran dan anak-anak Teater Spontan SMA Negeri 1 Palu, semuanya berharap agar insitiatif mereka ini tak berjalan ditempat dan tak bergantung pada mereka saja.

“Ini baru langkah awal, selanjutnya kami akan mulai menata puing-puing bangunan, menjadi nampak artistik, dan membuatkarya instalasi pada hari pertunjukan saat peringatan setahun bencana, dan akan menghidupkan kembali ruang-ruang untuk latihan,” beber Emhan Saja.

Akirnya, Lahamudin Yoto, sebagai inisiator utama, mengharapkan, agar penerangan listrik di lokasi Taman Budaya yang tidak berfungsi akibat aliran listrik terputus paska bencana, segera diaktifkan kembali.

“Ini adalah tanggung jawab kita bersama, namun pemerintah pusat dan daerah dan stake holder lainnya, adalah yang paling bertanggung-jawab untuk segera nlmemulihkan Taman Budaya Palu, ” simpul Tuaka Lahamudin Yoto.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR