Setara Memuji dan Mengkritik Langkah Jokowi Menemui Masa Aksi 212

Apa yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kala (JK) pada Aksi Damai hari ini (2/12/2016), dipuji oleh Direktur Setara Institut, Hendardi. Menurut Hendardi, kehadiran Jokowi-JK dan sejumlah pejabat yang menyapa dan ikut beribadah bersama, telah menunjukan bahwa stabilitas politik dan keamanan tetap terkendali.

“Sikap Jokowi adalah tindakan politik simbolis untuk menunjukkan bahwa stabilitas politik dan keamanan tetap terkendali. ¬†Ini pilihan pragmatis saat ini, ¬†untuk memastikan situasi tetap kondusif,” ujar Hendardi dalam keterangan tertulisnya kepada indeksberita.com.

Tapi kehadiran Jokowi di tengah massa aksi oleh Hendardi dianggap akan memberikan preseden buruk pada kehidupan berbangsa. Jokowi akan dianggap berkompromi dengan kelompok intoleran. Dan menurutnya, kedepan kerumunan masa akan menjadi legitimasi dan kebenaran baru.

“Ini akan menjadi preseden yang menunjukan bahwa akhirnya Jokowi komporomi dengan kelompok intoleran. Terhadap mereka yang sudah berulang kali melakukan aksi kekerasan” tukas Hendardi.

Hendardi juga melihat bahwa sikap dan respon Jokowi ini berbeda terhadap aksi Kamisan yang sudah berlangsung ratusan kali. Jokowi hanya membisu, menyikapi aksi yang dilakukan oleh korban dan keluarga korban pelanggaran HAM. Sikap yang sama juga dilakukan Jokowi terhadap aksi Ibadah Minggu sejumlah pemeluk agama.

“Jokowi hanya membisu, terhadap tuntutan para korban HAM dan keluarga korban HAM yang melakukan aksi Kamisan. Padahal mereka hanya menuntut agar pelanggaran HAM diiungkap. Juga mereka yang beribadah bersama di Monas. Meeeka hanya berharap dapat mendirikan tempat ibadah,” ujar Hendardi.

Mengenai tindakan polisi yang meminta keterangan terhadap 8 orang yang diduga tengah merencanakan tindakan makar. Dan penangkapan terhadap 2 orang lainnya yang diduga melakukan tindakan penyebaran kebencian, yg dijerat dengan UU ITE oleh Polri, menurut Hendardi itu merupakan langkah mitigasi, yang berkontribusi pada ketertiban aksi yg telah diselenggarakan. Tindakan Polri tadi menurut Hendardi, seharusnya diikuti dengan langkah yang lebih progresif dan komprehensif, dengan memeriksa aktor-aktor yang nyata telah menyebarkan kebencian dalam rangkaian aksi-aksi sebelumnya. Untuk itu, langkah Polri mesti terukur sehingga tidak menebar ketakutan baru yang bisa mengancaman kebebasan berpendapat.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR