Shalawat Nariyah Warnai Hari Santri di Nunukan

NUNUKAN – Hari Santri Nasional (HSN), Sabtu, 22 Oktober, diperingati dengan meriah diseluruh penjuru tanah air, tak terkecuali di Nunukan. Di daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini, ratusan pemuda-pemudi dari berbagai ormas dan sayap otonom NU, Jumat (21/10) malam, menggelar pembacaan Shalawat Nariyah sebanyak 4.444 kali. Kegiatan yang dipusatkan di Masid Al Mujahidin, Kota Nunukan, ini menjadi bagian dari instruksi PB NU yakni pembacaan Shalawat Nariyah sebanyak 1 milyar kali dibaca secara berjamaah oleh warga NU se Indonesia.

Bupati Nunukan Asmin Laura Hafid dalam sambutannya mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan yang digagas GP Ansor Nunukan dan PMII Komisariat Nunukan tersebut. Ia berharap, agar para pemuda-pemudi yang tergabung dalam Ormas Otonom NU dapat menjadi bagian dari pelaku pembangunan di perbatasan dan dapat menjadi pelopor generasi muda dalam mewujudkan generasi yang berkepribadian.

“Jadikan momentum Hari Santri ini sebagai pendorong semakin tumbuhnya nasionalisme di ptapal batas dan saya berharap agar eksistensi pemuda-Pemudi NU dalam menunjukan islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin selalu terjaga,” kata Laura.

Hadir dalam acara tersebut beberapa tamu undangan dari unsur Kepolisian, TNI, Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas), dan DPRD.

Andi Mutamir, anggota DPRD Kabupaten Nunukan mengungkapkan kegembiraanya melihat antusiasme para pemuda Nunukan dalam acara tersebut dan dirinya berharap agar kegiatan ini dapat selalu istiqomah dan kontinyu walau dikemas dalam event yang berbeda.

” Ini patut di apresiasi,dan kita harap agar kegiatan-kegiatan seperti ini bukan hanya dilakukan oleh para pemuda-pemudi NU saja. Apalagi kita ini di perbatasan,intervensi budaya dan politik tentu sangat mungkin terjadi di daerah ini. Untuk itu silaturahim dan acara seperti ini sangat penting dilakukan untuk membentengi psikologi para pemuda dari pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya kita,” paparnya.

Menanggapi maraknya ujaran-ujaran kebencian dan propaganda dari faham radikalisme yang banyak terjadi terutama di media sosial, Andi Mutamir menambahkan bahwa kegiatan ini juga sebuah keniscayaan untuk menangkal faham-faham radikalisme tersebut.

“NU itu jelas, yakni menyampaikan dakwah dengan akhlakul karimah dan menolak faham-faham Radikalisme apalagi Terorisme. Untuk itu, kegiatan-kegiatan kepemudaan jangan berhenti hanya pada event seperti ini.Kedepan mungkin bisa dengan menggelar dialog untuk meneguhkan empat pilar Kebangsaan,” pungkasnya.

Usai pembacaan sholawat secara berjamaah ,acara dilanjutkan dengan acara Nonton Bareng Film dokumenter Sang Kyai yang digelar di halaman Masjid.

BAGIKAN

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR