Simbok Kopi, Etalase Petani Suroloyo Kulon Progo

Jogja bisa jadi bertambah predikatnya sebagai kota kafe, menyusul sebutan kota pelajar, kota gudeg, dan kota budaya. Simbok Kopi, menambah jumlah kafe di kota ini. Ia menjadi etalase Petani Kopi Suroloyo, Serikat Tani Kulon Progo (Sertani), yang dikelola Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (HAPSARI).

Simbok Kopi, yang terletak di jalan Godean kilometer 8, jangan dibayangkan seperti Starbucks. Maklum Simbok Kopi baru dibuka hari ini (19/3). Namun, semangat para pengelola, para simbok HAPSARI menunjukkan tekad sukses ke depan. Tentu saja semangat para simbok ini didukung para bapak-bapak petani kopi di Suroloyo.

imageMenurut Sudarno, aktivis sosial dan penggerak petani kopi Suroloyo, Simbok Kopi merupakan etalase, penjualan langsung produk kopi hasil petani Suroloyo. Selain melalui kafe ini, produk kemasan kopi telah dijual melalui berbagai pameran, dijual di kalangan Pemkab Kulon Progo, bahkan sampai diekspor ke Singapura. Pemkab sangat mendukung petani kopi Suroloyo.

Tak hanya Pemkab Kulon Progo, Pemerintah Kanada pun mendukung petani Suroloyo. “Kanada mendukung pelaksanaan proyek yang memperkuat kemampuan pengusaha perempuan. Tujuan dari proyek khusus ini adalah menambah pengetahuan dan daya saing petani kopi perempuan, untuk mereka memproduksi dan memasarkan kualitas produk yang lebih baik.” Kalimat itu diucapkan Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Donald Bobiash, di Di Padepokan Giri Saloka, sebelah Puncak Suroloyo, di Keceme Gerbosari Samigaluh, Rabu (20/1/2016). Dubes Kanada melihat secara langsung berbagai kegiatan yang dilakukan petani kopi di Suroloyo.

Sudarno mengaku dirinya selama ini hanya mengurus lahan pertanian di Suroloyo dan bersama warga menanam kopi serta nguri-uri kebudayaan Jawa. “Jadi bagaimana menyajikan kopi dan mengelola kafe kami sama sekali tak mengerti,” tambah Darno, panggilan akrabnya. Namun, berkat jaringan aktivis Serikat Tani, ia berkenalan dengan Tosca Santoso, pendamping petani Sarongge, Cianjur, Jawa Barat. Santoso yang hadir saat pembukaan Simbok Kopi, bahkan pernahmenginap di Desa Suruloyo, puncak pegunungan Menoreh sekitar 50 kilometer dari Kota Jogja, dekat perbatasan Kulon Progo dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Darno banyak belajar dari Santoso. Ia bercita-cita Suroloyo akan menjadi Desa Wisata seperti Sarongge.

Darno yakin melalui Simbok Kopi ini para penikmat kopi maupun penyuka kopi biasa bisa dipuaskan. Penikmat kopi sejati akan dilayani sajian kopi arabika andalan Suroloyo dengan peralatan pembuat kopi bantuan dari Pemerintah Kanada. Sementara peminum kopi biasa tetap bisa dilayani dengan kopi liberika lokal Suroloyo. Kopi Suroloyo, merujuk pada salah satu puncak perbukitan Menoreh, Kopi dari sini karakternya “fruity”, baik yang berjenis Arabika, Robusta, Liberika, Excelsa, maupun Mocha, asal sangrainya tepat.

imageNah, bagi siapa saja – aktivis HAM, aktivis perempuan atau aktivis sosial lainnya – yang sedang berada di Jogja, penggemar kopi sejati atau peduli petani, silakan mampir ke Simbok Kopi. Di sini Anda akan mendapat cerita dari para simbok, dari mereka berjuang mendapatkan lahan, menanam kopi, mempertahankan budaya lokal, sampai bagaimana rasa aneka kopi yang tersaji. Selamat menikmati kopi.

BAGIKAN

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR