Simposium Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat di UGM

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dalam salah satu acara Direktorat Kebudyaan (foto istimewa)

Direktur Jenderal Kebudayaan Dr. Hilmar Farid saat tampil sebagai pembicara kunci pada simposium budaya kebangsaan dengan tema “Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengatakan, strategi kebudayaan bukanlah sesuatu yang baru untuk diseminarkan atau disimposiumkan, “Tidak banyak strategi kebudayaan di masa lalu, namun Undang Undang Pemajuan Kebudayaan yang dibahas selama lebih dari 30 tahun, merupakan buah dari olah pikir tentang strategi kebudayaan.”

Di depan sekitar 200 peserta simposium budaya kebangsaan, di lantai 5 Gedung Sekolah Pascasarjana (Kamis, 15 Juni 2017), Hilmar Farid menjelaskan bahwa strategi kebudayaan itu kini telah ada panduannya, yaitu UU Nomor 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Hal ini sesuai dengan UU 1945 yang salah satu pasalnya mengatakan, negara memajukan kebudayaan nasional. Melalui UU itu pemerintah akan hadir memajukan kebudayaan yang begitu tersebar dan beragam. “Yang penting dalam UU Pemajuan Kebudayaan ialah metode atau cara untuk memobilisasi pikiran menjadi kekuatan dan strategi yang konkret,” tambah Hilmar Farid. “Kita adalah kita hari ini, dan kita harus membangun berdasarkan sesuatu yang apa yang kita miliki saat ini,” ujar Hilmar Farid menutup sebagai pembicara kunci.

Rektor UGM Prof. Panut Mulyono dalam sambutan membuka simposium kerjasama Direktorat Jenderal Kebudayaan dan Pusat Studi Kebudayaan UGM itu menegaskan, UGM memiliki komitmen sebagai Universitas Kebudayaan, selain sebagai Universitas Pancasila, Universitas Kerakyatan, dan Universitas Ilmu Pengetahuan. Pilar inilah yang menjadi tugas bersama civitas akademika di UGM dan masyarakat sipil bersama pemerintah secara sinergis. Simposium ini diselenggarakan merespon situasi kebidupan kebangsaan yang bergerak ke arah mencemaskan serta ujian kebangsaan atas ancaman perbedaan.

Simposium dua sesi ini menghadirkan empat pembicara yaitu Dr. M. Mukhtasar Syamsuddin (mantan Dekan Fakultas Filsafat UGM), Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni (Direktur Pusat Studi Asia Tenggara UGM, mantan Dekan Fisipol UGM), Dr. Wening Udasmoro (Dekan Fakultas Ilmu dan Budaya UGM) dan Hairus Salim, M.Hum (Direktur LKIS). Simposium ini dimoderatori oleh Dr. Tia Pamungkas, dosen sosiologi UGM.

Hermin Indah Wahyuni memberikan rekomendasi strategis, yaitu merevitalisasi kembali fungsi TVRI dan RRI sebagai media publik pembentukan karakter bangsa, dengan mengakomodasi kekinian dan mempertimbangkan praktik budaya generasi muda. Pemerintah sekarang sudah selayaknya menjadikan TVRI dan RRI sebagai media partner bagi pengembangan strategi pengembangan kebudayaan nasional. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, upaya pemajuan kebudayaan nasional adalah suatu upaya yang sudah dilakukan berpuluh tahun hanya bisa dilakukan jika negara kuat.

Sementara itu menurut Muktasar Samsyuddin, Pancasila kini menjadi tafsir yang kontestasinya terbuka bagi beragam kelompok, dan karenanya pendidikan Pancasila tidak bisa lagi diajarkan secara dogmatis. “Pendidikan Pancasila harus melalui praktik, harus ada contoh konkret misalnya ketegasan tentang pemberantasan korupsi,” ujar Muktasar yang pernah menjadi dekan dua kali ini.

Pada sesi kedua Hairus Salim dan Wening Udasmoro sepakat bahwa pendidikan karakter bangsa  merupakan agenda yang harus disosialisasikan dan digerakkan di basis-basis komunitas. Beberapa pertanyaan kritis dari peserta – tak hanya mahasiswa tetapi seniman, budayawan dan warga masyarakat lainnya – antara lain apa yang dimaksud dengan Indonesia hebat, bagaimana ukuran Indonesia hebat? Seorang peserta juga mengkritisi pemerintah yang seolah tak melihat penting dan strategisnya Gerakan Pramuka yang beranggotakan 20 juta pelajar. Hairus Salim mengakui pentingnya Gerakan Pramuka namun cukup khawatir dengan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka yang diduga bersimpati dengan gerakan khilafah.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR