Soeharto Sebagai Ikon Wisata

Foto: Istimewa

Untuk figur sekelas Soeharto, tentu sudah layak bagi masyarakat untuk menziarahi jejak kehidupannya. Bukan hanya sebatas pusaranya yang terletak di Kabupaten Karanganyar (Jateng), namun juga artefak atau situs lainnya, misalnya markas atau kantor dimana Soeharto pernah ditugaskan.

Sebagai perbandingan, pusara Soekarno di Blitar (Jatim), setiap hari dibanjiri pengunjung dari seantero negeri. Terlebih di bulan Juni ini, yang dikenal sebagai bulan Bung Karno (BK), karena kebetulan BK lahir dan wafat di bulan Juni. Demikian juga dengan Soeharto, yang juga dilahirkan di bulan Juni, tepatnya tanggal 8 Juni.

Situs lain yang berhubungan dengan Soekarno, juga ramai dikunjungi turis atau peziarah. Lokasi tempat Soekarno pernah diasingkan dulu, seperti Endeh (Flores) dan Bengkulu, telah menjadi ikon wisata tersendiri. Tentu fenomena seperti itu bisa berlaku bagi Soeharto, terlebih situs tempat Soeharto bertugas dahulu, umumnya berada di kota-kota pusat kebudayaan Jawa, seperti Solo, Semarang, Salatiga, dan juga Yogyakarta.

Antara Soeharto dan Pranoto

Usai periode Perang Kemerdekaan (1945-1949), pada awal tahun 1950-an, Soeharto ditempatkan sebagai Komandan pada satuan setingkat brigade atau resimen, yang disebut Brigade Pragola (Resimen 14), di Salatiga. Dari Salatiga, Soeharto selanjutnya dipindahkan ke Solo sebagai Komandan Resimen 15. Gedung atau Markas tempat Soeharto bertugas dahulu di Salatiga, sampai sekarang masih ada, yang kini menjadi Markas Korem 073/Makutarama.

Kemudian rumah dinas yang ditempati Soeharto saat mukim di Salatiga, kini menjadi rumah dinas Komandan Korem 073. Rumah  bergaya art deco tersebut, merupakan salah satu rumah terindah di Salatiga, bahkan hingga sekarang. Sementara kantor Soeharto di Solo sudah alih fungsi untuk keperluan lembaga lain, itu karena kantor atau markas  Resimen 15 yang dahulu berada di sekitaran Jebres, pada tahun 1990-an dipindahkan ke daerah Palur, yang sudah masuk wilayah Kabupaten Sukoharjo. Dan Resimen 15 sendiri di kemudian hari (sampai sekarang) dikenal sebagai Brigade Infanteri 6 Kostrad.

Setelah dari Solo, Soeharto dipindahkan ke Semarang, karena mendapat promosi sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorium IV/Diponegoro,  satuan setara Kodam sekarang. Saat Soeharto bertugas sebagai Kepala Staf, dan kemudian Panglima TT IV/Diponegoro, Soeharto masih berkantor di simpang lima Semarang, kawasan yang dikenal sebagai landmark Kota Semarang. Karena pada tahun 1980-an, Markas Kodam IV/Diponegoro dipindahkan agak ke luar kota, yakni di Watugong, Banyumanik.

Satu hal yang menarik, sejak menjadi komandan di Salatiga, sampai menjadi Panglima Kodam di Semarang, perwira yang menggantikan Soeharto, adalah orang yang sama, yakni Pranoto Reksosamodro. Seolah Pranoto merupakan alter ego bagi Soeharto. Namun saat di Semarang itulah, hubungan keduanya mulai renggang.

Salah satu faktor penyebabnya, saat menjadi Panglima di Semarang, Soeharto sudah mulai coba-coba terjun di dunia bisnis, tanpa sepengetahuan Pranoto. Atau mungkin Soeharto sengaja tidak melibatkan Pranoto, meskipun Pranoto adalah orang kedua di Markas Kodam, selaku Kepala Staf. Terlebih saat menjabat Kepala Staf, Pranoto sedang memperoleh tugas belajar di seskoad (Bandung), jadi tidak bisa aktif setiap hari di Markas TT IV (Kodam IV).

Dari teks sejarah kita kemudian mengetahui, bahwa Pranoto kemudian tersingkir, bahkan meringkuk dalam RTM (Rumah Tahanan Militer) Budi Utomo, Jakarta Pusat, saat teman lamanya (Soeharto) mulai berkuasa. Markas satuan atau kantor di Salatiga, Solo dan Semarang, merupakan saksi bisu pertemuan keduanya. Yang mungkin awalnya berteman dekat, namun bisa bersimpang jalan di lain hari.

Antara Soeharto dan Yani

Nama penting lain yang sangat berpengaruh pada karir Soeharto adalah Jenderal Gatot Subroto dan Jenderal Ahmad Yani. Jenderal Gatot Subroto adalah Panglima pertama Kodam IV/Diponegoro. Sementara Yani adalah KSAD (Men/Pangad) yang kemudian digantikan Soeharto pasca tragedi tahun 1965. Sementara Gatot Soebroto, yang menjadi mediator antara  Soeharto dan Pranoto, saat hubungan keduanya semakin memburuk.

Bagi rumpun Diponegoro, figur Ahmad Yani benar-benar menonjol, bahkan bisa disebut “bintang” (the rising star) rumpun Diponegoro. Nama perwira lain, termasuk Soeharto, selalu berada di bawah bayang-bayang Ahmad Yani. Kalau boleh kita berandai-andai, selama masih ada figur Ahmad Yani, Soeharto masih harus bersabar menanti pemunculannya. Selain mumpuni dalam pertempuran yang riil, Ahmad Yani juga dikenal sebagai konseptor ulung.

Jejak karya Yani masih terlihat hingga kini, di antaranya adalah pembentukan satuan tempur berkualifikasi raider (Yonif 400/Banteng Raider) dan Kostrad. Meski sempat beberapa kali ganti nama, namun satuan Banteng Raiders tetap eksis sampai sekarang, dengan pangkalannya di daerah Srondol, Kota Semarang. Bataliyon Banteng Raiders sempat dipimpin Letkol Untung, sahabat baik Soeharto, yang hidupnya berujung tragis pasca G30S tahun 1965. Jadi mirip-mirip dengan nasib Mayjen Pranoto.

Bagi masyarakat yang berminat menelusuri situs terjadinya interaksi antara Soeharto, dengan Ahmad Yani, Gatot Soebroto, Untung, dan figur rumpun Diponegoro yang lain, semua situs masih tegak berdiri. Bila ada  pihak yang mengambil prakarsa, bisa dikemas menjadi paket wisata menarik.

Waduk Kedungombo

Setelah tragedi nasional 1965, Soeharto berkuasa selama 32 tahun. Salah satu penanda penting kekuasaan Soeharto adalah Waduk Kedungombo, yang terletak di perbatasan Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Bila Orde Baru diandaikan sebagai sebuah buku tebal, Waduk Kedungombo adalah ringkasan terbaik tentang buku itu.

Salah satu momen tak terlupakan adalah, di tengah berlangsungnya proses pembangunan Waduk Kedungombo, Soeharto mengeluarkan dua kosa kata (jawa) yang kemudian sangat terkenal:  gebug (pukulan keras) dan mbalelo (membangkang). Istilah mbalelo dikeluarkan Soeharto untuk menyebut warga yang menolak dipindahkan dari lokasi proyek pembangunan waduk. Dan apabila masih menolak juga, gebug adalah tindakan berikutnya. Ada sebagian analisis menyebutkan, bahwa makna gebug sendiri bersayap. Selain ditujukan pada penduduk yang tetap bertahan di lokasi waduk, namun sebenarnya juga ditujukan pada sebagian elite politik di Jakarta, yang mulai coba-coba menentang Soeharto, salah satunya adalah Benny Moerdani.

Kini istilah gebug kembali menjadi viral, ketika diucapkan oleh Presiden Jokowi baru-baru ini, pada pihak yang berusaha mengganti ideologi Pancasila. Apakah kata gebug dari Jokowi kali ini juga bersayap, artinya juga ditujukan kepada pihak yang ingin merongrong kekuasaannya Jawabannya masih belum tersedia hari ini.

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR