Tabligh Peringatan Isra Mi’raj di PTPN IV: Islam tak Ajarkan Fitnah, Hoaks, dan Caci Maki

Peringatan Isra Mi'raj pimpinan dan karyawan PTPN IV di Mesjid At Taqwa, Kebun Bah, Jambi, Selasa (2/4/2019) malam. Foto: Istimewa.

Pimpinan dan karyawan dari 16 kebun PT Perkebunan Nasional (PTPN) IV di Simalungun dan beberapa karyawan dari Kebun PTPN IV di Asahan dan masyarakat sekitar Kebun Bah Jambi, berbondong bondong menghadiri peringatan Isra Mi’raj PTPN IV yang diselenggarakan di Mesjid Taqwa, Bah Jambi, Simalungun, Selasa (2/4/2019) malam.

Sebagaimana yang disampaikan Ir. Edi Usman, General Manager sekaligus selaku tuan rumah, Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan luar biasa Rasulullah agar umat Islam mampu mengerjakan sholat lima waktu.

“Kami berharap hadirin dapat memetik pelajaran dari peristiwa Isra Mi’raj. Keimanan kita kepada Allah yang menjadi petunjuk agar kita tetap di jalanNya,” ujarnya.

Sementara itu Rudi Simatupang selaku Ketua Panitia menyampaikan terimakasih atas kerjasama dan partisipasi semua pihak, terutama GM Distrik I dan Bapak Mahdi GM Distrik II, juga kepada panitia, para manajer, karyawan pimpinan dan pelaksana.

“Secara khusus, ucapan terimakasih disampaikan panitia dan tuan rumah kepada Komisaris Independen, Bapak Osmar Tanjung yang hadir dan turut berpartisipasi demi terselenggaranya Tabligh Akbar pada perayaan Israk Mi’raj pada tahun ini,” katanya.

Ustadz H Amran Saragih MA, penceramah yang diundang khusus dari Jakarta menyampaikan tausiahnya dengan renyah dan santun dihadapan sekitar 2.000 jamaah.

Peringatan bertema “Isra Mi’raj Aku, Kamu Satu Hati untuk Indonesia yang Rahmatan Lil’ Alamin” dibuka dengan tausiah yang menggugah  kesadaran dan memperteguh keyakinan jamaah kepada Allah bahwa kita diberi otak dan hati agar bisa menjadi manusia yang berakhlak.

Dikatakan Ustadz Amran, ada 3 hal pokok yang membuat kita terhindar dari fitnah dan penyakit agar dibukakan pintu surga oleh Allah SWT.

“Hindari maksiat dan buruk laku dalam tiga hal ini. Pertama, sombong (kibrun), ini awal perbuatan iblis yg tak mau sujud ke Adam. Kedua, rakus (khirsun) ini awal berbuat Adam dan Hawa yang tak mampu menahan nafsu memakan buah khuldi. Dan ketiga, iri dengki (hasad). Ini awal berbuat anak Adam, Kabil yg membunuh Habil saudara kandungnya,” tuturnya.

Ustad Amran  menambahkan, Adam selalu mohon ampun kepada Allah karena godaan Iblis. Adam tidak pernah menyalahkan Iblis. Adam menyalahkan dirinya yang lalai terhadap ajaran Allah.

“Inilah akar agama Islam. Islam tidak pernah mengajarkan memfitnah, membuat hoax, mencaci maki, apalagi menyalahkan orang lain. Mari kita satukan hati untuk Indonesia yang rahmatan lil’alamin. Hindari fitnah, hindari buruk sangka, hindari sombong, hindari tamak dan rakus agar kita dapat mencapai akhlakul kharimah. Amin ya rabbal alamin,” pungkasna.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR