Tahan Jempolmu, Demi Papua yang Lebih Baik

Kristin Samah bersama anak-anak Papua (foto dokumen Kristin Samah)

Timika – Dua minggu terakhir beredar di sosial media kabar tentang situasi keamanan di Kabupaten Nduga, Papua. Informasi yang belum terkonfirmasi kebenarannya. Memang ada gangguan keamanan di Kabupaten itu.

Sejak awal, Nduga diindikasi sebagai daerah merah, tempat pergerakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Dan ada yang memanfaatkan suhu politik Pilkada untuk mengobarkan kebencian hingga memakan korban jiwa.

Tulisan ini tak bermaksud mengulas situasi keamanan di Nduga.

Selama hampir sepekan berpindah dari Jayapura, Nabire, Timika, Jayawijaya, Lanny Jaya, untuk melakukan literasi kebangsaan di kalangan anak-anak, inilah bagian yang harus menjadi perhatian kita sebagai anak bangsa.

Berbeda dengan Papua Barat, kawasan pesisir, yang jauh lebih stabil situasi keamanannya, Papua yang merupakan kawasan pegunungan, di beberapa tempat memang cenderung masih bergolak.

Satu yang perlu dipahami, terdapat kesenjangan peradaban antara anak-anak di Papua dengan orang-orang yang berada di kawasan barat Indonesia. Dan ini bukan kesalahan satu-dua tahun. Toh kita tidak sedang mencari kesalahan.

Sebentar lagi, tanpa menunggu berpuluh tahun, akses internet yang sedang disiapkan pemerintah segera membuka isolasi informasi. Tidak hanya gap, Papua akan mengalami lompatan budaya. Siap atau pun tidak.

Saya hanya ingin menyampaikan pesan anak-anak Papua yang ditemui di beberapa tempat. Mereka berharap bisa belajar. Itu diucapkan melalui sorot mata ketika mendengarkan dongeng dan cerita.

Mereka ingin bermain, gejolak itu dikirim melalui tawa dan sorak ketika kanvas dan pewarna digelar. Berkerumun, tak ingin beranjak dari warna-warna, seolah ingin mengelir kehidupannya.

Sa ingin belajar dan bermain, mengapa orang tua lebih suka berperang, menyeret anak-anak untuk berlari, mengungsi?

Jeritan itu disampaikan pada Binmas Noken, Satgassus Papua. Orang-orang di Jakarta atau daerah lain yang memiliki kepedulian pada Papua, ibarat oase yang sekejap memberi kesejukan. Atas nama kesibukan, Papua akan tenggelam dalam ruang ingatan. Sekali-sekali muncul sebagai sebuah kenangan pernah berbuat untuk surga kecil yang jatuh ke bumi.

Papua harus menyelesaikan masalah sesuai dengan budayanya sendiri. Orang-orang Papua harus berjuang untuk peradabannya sendiri. Lalu kita? yang punya hati untuk Papua?

Bekerjalah dengan lembaga-lembaga yang memiliki kredibilitas serta kompetensi. Paling tidak itu bisa diukur dari lamanya mereka bekerja dan hasil yang dicapai.

Kalau itu pun tidak bisa dilakukan, tahanlah jempolmu untuk tidak menyebar kabar tak faktual dan akurat. Karena kampanye negatif tentang Papua terus dilakukan oleh orang-orang yang mengail di air keruh, untuk kepentingan sendiri dan kelompoknya.

Jangan nodai harapan anak-anak Papua untuk setara dengan anak bangsa di belahan lain Indonesia hanya karena kita merasa tahu tentang Papua, padahal tidak pernah menginjak bumi Cendrawasih.

Kristin Samah (Foto pribadi)
Kristin Samah (Foto pribadi)

 

Penulis: Kristin Samah, wartawan dan penulis beberapa buku, yang mencintai Indonesia. 

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR