Talkshow Kebangsaan Bersama Asa Firda Inayah di Fisipol UGM

Asa Firda Inayah dalam Talkshow Kebangsaan

Fisipol UGM Yogyakarta menyelanggarakan Talkshow Kebangsaan dengan menghadirkan Asa Firda Inayah yang fenomenal dengan nama Afi Nihaya Faradisa, pada hari Senin 29/5/2017. Talkshow Kebangsaan  Asa Firda Inayah ini digelar di ruang Digital Library lantai 4 Fisipol UGM, dan dihadiri sekitar empat ratus orang, dari mahasiswa, dosen, seniman, aktivis sampai wartawan. Tampil sebagai pemandu dosen sekaligus selebritas sosmed UGM Abdul Gafar Karim.

AGK, nama populer pemandu talkshow, pada awalnya bertanya ke Afi hal-hal yang ringan. Misalnya tentang nama  populer Afi Nihaya Faradisa. Remaja asal Banyuwangi itu menjelaskan, Afi adalah singkatan tiga huruf awal namanya (Asa Firda-red.). Nihaya dari kata Inayah, dan Faradisa dari asal Firda. Ia menggunakan nama itu karena tak ingin dikenal namanya.

Gus Gafar juga bertanya, berapa buku yang dibaca Afi. Dengan santai Afi menjawab sekitar tiga buku setiap minggu. Begitu mendengar jawaban Afi, Gus Gafar langsung bertanya, “Mana mahasiswa Fisipol, kalian diberi tugas membaca satu buku saja tak selesai dalam satu semester,” kata Gus Gafar.

Kapan Afi mulai menulis? Ternyata ia menulis di facebook sejak 2016, tetapi menulis buku harian sejak SD, mungkin kini sudah sekitar 500 halaman.  “Warisan” adalah tulisan  yang paling viral.

Namun demikian sebagai remaja ia juga sama seperti remaja lainnya misalnya tetap berurusan dengan soal pacar. Baru Februari lalu Afi diputus pacarnya, tanpa kejelasan.

Kata Gus Gafar, mungkin pacarnya iri dengan Afi yang makin populer. Jangan-jangan ia jarang like postingan Afi, kata Gus Gafar.

Pertanyaan pancingan sebelum pertanyaan serius dari Gus Gafar, “Apa agama Afi?” Dijawab oleh Afi, “Saya memilih menjadi muslim karena kesadaran.” Kemudian pemandu talkshow mengejar lagi, “Muhamaddiyah atau NU?” Dengan gamblang Afi menjawab NU. Tanpa dikomando hadirin tertawa dan tepuk tangan.

Seorang mahasiswa psikologi bertanya bagaimana Afi menanggapi serangan dan bulian dari para hater, misalnya cacian : kecil-kecil kok sudah liberal? Atau: Kalau mengaji ya kepada kyai beneran bukan kyai google.

Afi menjawab, bahwa Ia telah membaca buku-buku tentang psikologi, bahkan dirinya mau kuliah di fakultas psikologi. Ia tak membaca semua tanggapan, apalagi tanggapan tentang tanggapan.   “Itu membuat jatah umur saya berkurang saja,” kata Afi sambil tertawa.

Tentang tuduhan belajar kepada kyai google, Afi mengatakan dirinya sejak kecil mengaji dan telah tuntas membaca Kitab Kuning, Al Hikam dan buku-buku agama Islam lainnya.

Seorang alumni Fisipol bertanya mengutip mantan guru besar UGM (banyak yang menduga Amien Rais) saat pengajian ramadhan di masjad UGM. Kata sang guru besar tiap hari 70.000 orang melakukan umroh, belum lagi ratusan ribu orang yang berhaji tiap tahun. Dengan perhitungan itu, maka pada tahun 2040 Indonesia sepantasnya berdasar Al Quran dan Keislaman.

Dengan tenang Afi menjawab agar sang guru besar itu membaca kembali buku sejarah SD kelas VI. “Sebelum mayoritas penduduk Indonesia memeluk Islam seperti sekarang, Hindu dan Budha adalah agama mayoritas. Bagaimana jika pemeluk Hindu dan Budha juga menuntut hal yang sama? Bangsa ini telah memilih negara kebangsaan bukan negara agama,” ujar Afi.

Afnan Malay, aktivis UGM 1980an mengatakan kedatangannya ingin konfirmasi apakah diskusi di UGM masih seperti dulu saat dia kuliah. Ternyata diskusi ini terlalu serius, tak ada lagi celetukan, tak gayeng lagi. Afnan juga ingin konfirmasi ternyata banyak yang datang ingin melihat, “Oh ternyata Afi masih seorang muslimah.”

Afnan menambahkan sejak dulu sebenarnya pergaulan beda agama dengan guyonan itu sudah biasa. Misalnya celetukan, “Ah kamu Islam karena orang tuamu Islam,” atau “Ah kamu Kristen karena nenek kamu juga Kristen.” Hal itu biasa, tetapi mengapa tulisan Warisan Afi menjadi heboh?

Afnan mengamati, sebenarnya umat Islam itu mengalami frustrasi karena krisis ulama. “Masak Riziek ulama, masak Tanjung yang menghina Jokowi ulama?” Selain itu, kini orang beragama hanya berpikir surga, surga dan surga.

Terhadap ‘curhat’ Afnan Malay ini, Afi menjawab dengan mengutip seseorang yang dia lupa, “Orang-orang menciptakan surga bagi dirinya dengan membuat neraka bagi lainnya.”

Faiza Mardjuki dan Max Lane menanggapi Afi soal buku. Faiza, penulis naskah drama dan sutradara itu, bertanya buku-buku apa yang dibaca sehingga bisa mempengaruhi Afi bisa menulis seperti sekarang.

Sementara Max, dosen tamu UGM asal Australia,  menjelaskan Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang siswa SMP dan SMAnya tak diberi pelajaran sastra di sekolah. Padahal dengan membaca karya sastra yang merupakan catatan abad 19 atau 20 inilah, yang membuat pelajar Indonesia hingga mahasiswa bisa mengenal memori bangsanya sendiri.

Terhadap pertanyaan ini Afi mengakui sistem pengajaran di sekolah sangat memprihatinkan. “Saya mengusulkan ubahlah sistem pengajaran di sekolah-sekolah di Indonesia, jika tak bisa ubahlah diri sendiri bagaimana belajar atau mengajar yang baik.” lanjut Afi.

Gus Gafar mengajak hadirin agar bertanya yang mengkritisi Afi jangan hanya memuji. Whani Dharmawan, seorang aktor, yang mengaku lulusan SMA bertanya. Katanya, Afi itu mestinya lahir dari batu, kacang, getuk. Maksudnya, publik Indonesia itu ingin melihat seorang Afi yang fenomenal ini karena sesuatu yang ‘ajaib’.

“Ternyata saya keliru, Afi bisa menulis dengan baik itu karena sejak SD belajar, latihan, membaca banyak buku, bukan instan,” ujar Dharmawan.

Dharmawan kemudian menantang Afi, “Apa yang bisa dilakukan Afi terhadap perubahan di Indonesia?” Dengan gaya remajanya Afi menjawab, “Jangankan saya yang cuma lulusan SMA, para  akademisi, profesor yang  di depan saya ini apa yang telah dilakukan?” Lagi-lagi tepuk tangan hadirin bergema.

Sebuah pertanyaan dari media sosial (talkshow ini bisa langsung diikuti di youtube), dibacakan Gus Gafar.”Bagaimana Afi, dengan adanya tuduhan bahwa tulisannya makin membuat bangsa ini terpecah. Afi tak terpancing dengan pertanyaan yang cenderung memancing itu. Ia dengan jujur menjawab, “Jika saya mengajak berpikir dianggap perpecahan saya tak bisa menjawab,” jawab Afi.

Gus Gafar menutup talkshow dengan mempertegas ucapan Afi: banyak membaca, banyak menulis, banyak posting. AGK menambahkan yang dibutuhkan bukan glorifikasi terhadap Afi karena itu akan membunuhnya. Melainkan kritikan, agar ia makin dewasa dan matang.

Usal talkshow diadakan wawancara doorstop di lobi Kantor Fisipol UGM lantai 2. Puluhan wartawan Jogja mengerubungi Afi dengan pertanyaan-pertanyaan yang ringan. Namun ada seorang wartawan, entah dari media mana, bertanya ke remaja itu, “Afi percaya surga dan neraka?” Ternyata Afi lebih cerdas dari si wartawan, ia tak menjawab pertanyaan itu.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR