Tengku Erry: Provinsi Sumut Siap Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah di depan mata. Bagaimana persiapan pemerintah provinsi Sumatera Utara dalam menghadapi moment tersebut, kami sudah berbincang-bincang dengan Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara, Bapak Tengku Erry (TEN) di rumah dinasnya.

Berikut petikan wawancara dengan Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry Nuradi, saat launching kesiapan Sumatera Utara menghadapi MEA, di Medan, Kamis (31/12/2015).

IndeksBerita (IB): Sepertinya Sumatera Utara sudah siap menghadapi MEA?

Tengku Erry Nuradi (TEN): Tentunya kita tidak bisa bilang tidak siap, karena ini sudah jadi kesepakatan para pimpinan nasional kita. Karenanya, saya hanya bisa menyampaikan bahwa the show must go on. Walaupun persiapan kita sedikit terlambat dan masih perlu banyak pembenahan, tapi proses ini harus tetap berjalan. Oleh karenanya kita akan terus berupaya menyiapkan sumber daya manusia di berbagai bidang. Kita berharap, upaya ini bisa membuat kita  menjadi tuan rumah dan memiliki daya saing sehingga kita dapat memanfaatkan MEA bagi kemajuan Indonesia. Terlebih  karena pasar ASEAN ini besar. Penduduknya hampir 600 juta. Hampir sepertiganya atau 200 juta ada di Indonesia, termasuk di Sumatera Utara sebanyak 14 juta. Nah kita harus bisa manfaatkan bersaing disitu. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan tenaga kerja yang trampil dan memiliki kualifikasi atau sertifikasi khusus di berbagai bidang, sehingga mereka bisa bersaing dan diterima dan masuk di pasar tenaga kerja negara-negara ASEAN lainnya. Jadi jangan sebaliknya, orang-orang itu yang yang masuk ke kita.

IB: Apa keunggulan kompetitif Sumatera Utara?

TEN: Kita punya banyak produk holtikultura unggulan. Di sini ada Kelapa Sawi.  Ada Coklat. Juga tambang, panas bimi, serta potensi bidang lainnya yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Jadi Sumatera Utara cukup banyak modal untuk bersaing.

IB: Apa rencana strategis untuk memasarkan keunggulan kompetitif tadi?

TEN: Tentu banyak rencana yang sudah kita buat. Misalnya di bidang  infrastruktur, kita terus menggenjot pembangunan jalan tol. Kemudian pada Januari ini kita akan melakukan launching atau peletakan batu pertama pembangunan kereta api layang sepanjang 8 km dengan biaya kurang lebih 2,8 triliun. Selain itu, pembangunan pelabuhan Kuala Tanjung kini sudah mencapai 25%. Dan Sumatera Utara juga punya 4 kawasan strategis yang sdh mendapat payung hukum nasional. Di sini ada kawasan ekonomi khusus Mebidangro, Inalum, Sei Mangke, dan kawasan ekonomi strategis Danau  Toba. Selama tiga tahun ke depan sampai 2019, kita akan bangun jalan lingkar Danau Toba dan jalan lingkar Samosir. Kemudian kita juga akan  meningkatkan jalur kereta api yang sekaran baru sampai Pangkalan Brandan aagar bisa tembus ke ACEH, dan yang sekarang baru sampai Rantau Prapat akan tembuskan sampai ke Dumai. Jadi kita akan terus memacu kegiatan yang mudah-mudahan akan mendorong pecepatan pembangunan di Sumarera Utara ini.

Sektor Pariwisata

IB: Bagaimana dengan sektor pariwisata?

TEN:  Kita bersuyukur punya Danau Toba yang sudah mendunia. Di sini juga banyak peninggalan kolonial yang bisa kita jadikan obyel wisata, selain Istana Maimun, mesjid raya, wisata agorpolitan di Brastagi, serta wisata maritim.

IB: Dengan semua itu, bagaima aproyeksi pertumbuhan ekonomi Sumut selama ini?

TEN:  Saat ini, pertumbuhan ekonomi sumut masih berada di atas pertumbuhan rata-rata ekonomi nasional.

IB: Bagaimana dukungan pemerintah pusat terhadap Sumut?

TEN: Pemerintah pusat sangat banyak membantu. Tentu yang terutama adalah soal anggaran. DIPA kita sekarang sebesar 69 triliun. Naik 12 triliun dibandingkan tahun lalu yang hanya 48 T. Selain itu adalah kegiatan yang langsung dilakasanakan oleh kementerian dan lembaga-lembaga pemerintah pusat. Perkembangan Sumut sangat signifikan, sehingga kita tidak mengalami defisit anggaran pada tahun ini. Pendapatan kita sudah mencapai target yang telah ditetapkan dalam perubahan APBD, sehingga tidak ada lagi gagal bayar.

IB: Jadi, ada surplus?

TEN: Sudah, sebesar  102 %.

IB: Itu dari sektor apa saja?

TEN: Terutama dari pedapatan asli daerah dan dana perimbangan dari pusat, termasuk dana bagi hasil pajak sebesar 200 M yang belum terima semuanya.

IB: Tapi surplus itu kan juga karena ada pemotongan dana di berbagai bidang pada perubahan APPBD lalu?

TEN: O ya, itu namanya sistem manajemen yang baik. Saya mendorong Penganggarannya berdasarkan kemampuan kita. Selama ini selalu mismanajemen karena sistem yang baik itu tidak dilakukan, sehingga kita selalu mengalami deficit anggaran.

IB: Apa pengaruh gonjang-ganjing politik nasional terhadapa persiapan Sumut menghadapi MEA?

TEN: Kita tentu  hanya bisa berharap semoga kondisi politik ke depan ada cooling down, sehingga akan tercipta suasana yang kondusif untuk membangun. (sah)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR