Tentara dan Kekuasaan: Satuan Militer Legendaris dan Fenomena Prabowo

Sampul Buku Satuan Militer Legendaris Yonif 328

Ada banyak satuan militer di negeri ini, yang bagi publik awam tentu sulit untuk mengingat satu per satu, kecuali bagi mereka yang  tinggal dekat-dekat  markas  satuan dimaksud. Walau begitu ada satuan militer legendaris, yang memang telah menjadi ikonik, yang namanya membahana hingga jauh melintasi kota atau wilayah asal pasukan tersebut, semisal Bataliyon Infanteri Para Raider 400/Banteng Raiders, yang bermarkas di Srondol, Semarang. Angka penanda satuan ini sempat berganti-ganti, tapi sebutan “Banteng Raiders” tak pernah lepas dari dari ingatan publik.

Latar belakang mengapa satuan militer layak disebut legenda disebabkan beberapa faktor, misalnya selalu sukses dalam melaksanakan operasi tempur, atau satuan itu pernah melahirkan tokoh terkenal, biasanya lebih dari satu orang. Banteng Raiders (BR) misalnya, dari satuan ini pernah lahir tokoh seperti Ahmad Yani (penggagas satuan), Ali Moertopo (mantan komandan kompi BR), dan Letkol Untung Syamsuri (mantan Danyon). Keterlibatan Letkol Untung dalam Peristiwa 1965, tidaklah mengurangi kebesaran nama bataliyon BR.

Satuan militer lain yang memiliki nama besar adalah Bataliyon Infanteri Para Raiders 328/Dirgahayu Kostrad, yang bukunya sedang kita bahas ini. Buku berjudul 328 Para Battalion: The Untold Stories of Indonesian Legendary Paratroopers (Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2016), memberi gambaran singkat bagaimana sebuah satuan infanteri dibangun, agar bisa menjadi satuan yang dibanggakan, bukan hanya TNI, namun juga masyarakat luas.

Fenomena Prabowo

Yonif Linud 328/Kujang II resmi berdiri pada 13 Februari 1958, sebagai respons masih berlangsungnya pemberontakan DI/TII di wilayah Jabar. Pimpinan Kodam III/Siliwangi sebelumnya telah membentuk pasukan khusus untuk mengatasi DI/TII, yaitu Kesko (Kesatuan Komando, kelak menjadi Kopassus/RPKAD) dan Yonif Para 330/Kujang I, namun dirasa masih kurang, maka dibentuk satu lagi pasukan berkualifikasi raider dan para, yakni Yonif 328 tersebut.

Dalam ulasan pendek ini, rasanya tidak mungkin meringkas sejarah panjang Yonif 328. Secara singkat bisa dikatakan, hampir semua operasi di Tanah Air, mulai dari DI/TII, operasi di Timor Timur, Aceh sampai Papua, Yonif 328 selalu terlibat. Bahkan ada operasi yang sangat fenomenal, yaitu dalam operasi perebutan pos Matabean di Timtim (1978), dimana Yonif 328 harus kehilangan banyak anggotanya, kisaran dua peleton yang gugur, karena beratnya medan dan kuatnya pertahanan pihak lawan.

Pada saat itu yang menjadi Komandan Yonif 328, adalah Mayor Bambang Soembodo (Akmil 1965, terakhir berpangkat Mayjen), yang dalam kondisi sakit malaria masih gigih memimpin anak buahnya meneruskan pertempuran. Bambang Soembodo tetap bersikeras memimpin langsung anak buahnya, mengingat begitu strategisnya posisi yang diperebutkan.

Kita juga bisa melihat, bagaimana sebuah satuan seperti Yonif 328, bisa masuk orbit politik nasional, melalui perwira yang pernah memimpin atau berdinas di satuan ini. Beberapa nama dimaksud masih eksis di panggung elite politik Jakarta, seperti  Letjen TNI Purn Agus Widjoyo (Danyon 1985, kini Gubernur Lemhanas) dan Letjen TNI Purn Prabowo Subianto (Danyon 1987-1991).

Ketika Mayor Inf Prabowo Subianto dipindahkan dari Kopassus ke Yonif 328, sungguh pengalaman menarik. Kepindahan Prabowo menjadi titik kulminasi persaingan  antara Kopassus dan Kostrad. Prabowo terpaksa keluar dari Kopassus, karena konflik yang berlarut-larut dengan kelompok Benny Moerdani. Pada seputar tahun 1987-1988 itu, yang menjadi atasan langsung Prabowo, yakni Brigjen Sintong Panjaitan (Danjen Kopassus) dan Letkol Inf Luhut Panjaitan (Komandan Anti Teror Kopassus), merupakan orang dekat Benny. Bahkan sampai sekarang pun, hubungan antara Luhut Panjaitan dan Prabowo masih terasa kurang mulus.

Ketika dipindahkan ke Yonif 328, Prabowo secara cepat bermetamorfosis menjadi perwira Kostrad sejati, dia menjadi ujung tombak persaingan antara Brigif 17 dan Kopassus. Saat menjabat Komandan Bataliyon 328, Prabowo dengan caranya sendiri, membangun satuan ini agar citranya bisa mendekati Kopassus, kabarnya sebagian atas biaya pribadi. Prabowo seakan memiliki dendam yang terus membara, khususnya kepada kelompok Benny, yang  dia konversi menjadi energi untuk membesarkan Yonif 328, dan terus berlanjut ketika Prabowo dipromosikan sebagai Kepala Staf Brigif 17. Usai menjabat Kasbrig 17, Prabowo ditarik kembali ke Kopassus. Pengalaman Prabowo di Kostrad dan Kopassus, kemudian menjadi modal sosial (dan politik) baginya dalam memasuki “palagan” yang lain, yaitu sebagai figur pemuncak politik nasional.

Saya kira Prabowo masih akan maju lagi pada Pilpres 2019, mengingat dari segi usia masih memungkinkan, pada tahun 2019 usia Prabowo berkisar 68 tahun. Bagi Prabowo kendalanya memang cuma usia, faktor alamiah yang tidak mungkin dilawan.

Sementara dari segi sumberdaya, seperti dana dan dukungan, sudah sangat berlebih. Bisa jadi Pilpres 2019 merupakan pertaruhan terakhir Prabowo sebagai tokoh nasional.

Nama lain yang juga ikut dibahas dalam buku ini adalah Letjen TNI M Munir (Akmil 1983), mantan Wakil KSAD. Meski tidak sempat menjadi Danyon 328, namun Munir merasa dibesarkan oleh satuan ini, karena sejak Letda sampai Kapten, Munir bertugas di Yonif 328. Pengalaman Munir menarik, bagaimana faktor politis bisa berpengaruh pada karir seorang perwira.

Saat menjabat Komandan Brigif 17  (2003-2004), Munir ditarik ke Istana, menjadi ADC (ajudan) Presiden SBY, yang kebetulan dulu juga Komandan di Brigif 17. Memasuki periode kedua Presiden SBY (2009-2014), Munir kembali bertugas dalam struktur TNI AD, hingga sampai pada posisi Wakil KSAD. Semua pihak sudah memperkirakan, Munir selangkah lagi akan menjadi orang nomor satu di TNI AD. Namun ketika menempati posisi WKSAD, terjadi pergantian rezim, yaitu naiknya Presiden Jokowi. Rupanya pergantian rezim ini sangat berpengaruh pada karier Munir, dia tidak lagi memperoleh dukungan dari Istana, hingga posisi KSAD lepas dari genggamannya.

Menjaga Tradisi Satuan

Sebagian “alumni” Yonif 328 telah masuk dalam lingkaran elite nasional, bahkan tak jarang mereka saling bersaing demi memperebutkan kekuasaan, seolah lupa bahwa dulu pernah saling menitipkan nyawa ketika bersama-sama terjun di medan tempur. Walau bagaimana pun, Yonif pertama-tama adalah satuan tempur, yang sudah dikenal andal sejak dulu. Oleh karenanya militansi dan naluri tempur segenap anggotanya tetap harus dijaga, meskipun dalam kondisi damai. Bila ada satu-dua mantan anggotanya ingin melanjutkan kiprahnya di palagan yang lain, ranah politik misalnya, itu adalah urusan nanti.

Keberadaan satuan infanteri seperti Yonif 328 pada saat sekarang posisinya sedikit dilematis, di tengah tuntutan penggunaan alutsista canggih dalam operasi tempur masa depan dan konsep poros maritim dunia. Satuan infanteri dibanding satuan lain, memang sedikit lambat dalam hal kecanggihan teknologi. Jangankan dengan matra udara atau matra laut, dengan sesama kecabangan dalam Angkatan Darat, sebut saja itu arhanud atau kavaleri, teknologi persenjataan infanteri, khususnya senapan serbu, seolah jalan di tempat. Namun aktualisasinya memang bukan di situ.

Dalam satuan infanteri, yang lebih diutamakan adalah unsur manusianya, sebagaimana ungkapan “the man behind the gun”. Nama besar satuan seperti Yonif 328, juga satuan infanteri lain (termasuk Kopassus), bisa berfungsi sebagai efek penangkal (deterrent effect) bagi kemungkinan maraknya gerakan separatis, atau invasi dari luar. Termasuk bila dihubungkan dengan konsep Poros Maritim Dunia, posisi satuan infanteri tetap tidak tergantikan.

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR