Terbukti Sebarkan Ujaran Kebencian, Jonru Ginting Divonis 18 Bulan Penjara

Jon Riah Ukur Ginting atau Jonru Ginting bersama pengacaranya setelah sidang. Jonru Ginting divonis 18 bulan pada hari Jumat (2/3/2018) di pengadilan Jakarta Timur.

Terdakwa kasus ujaran kebencian Jon Riah Ukur Ginting atau Jonru Ginting divonis18 bulan penjara dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan. Vonis Jonru Ginting tersebut dibacakan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Jumat (3/2/2018).

Majelis Halim menilai Jonru terbukti dengan sengaja menyebarkan informasi yang menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan berdasarkan SARA di akun media sosial miliknya.

“Menyatakan terdakwa Jon Riah Ukur alias Jonru Ginting terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan beberapa perbuatan dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang diduga menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu untuk masyarakat tertentu atau suku ras dan antar golongan (SARA) sebagai perbuatan berlanjut sebagaimana dakwaan kesatu,” ucap Ketua Majelis Hakim yang menangani kasus ini, Antonio Simbolon dalam membacakan amar putusan tersebut.

Hakim menilai, dakwaan jaksa penuntut umum sebagaimana dalam pasal 28 ayat (2) Jo. Pasal 45A ayat (2) Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik telah terpenuhi.

Setidaknya ada empat tulisan Jonru yang disebarkan lewat posting-an di fanpage Facebook miliknya. Posting-an pertama pada 23 Juni 2017 soal Quraish Shihab, yang akan menjadi khatib salat id di Masjid Istiqlal. Kedua, posting-an terkait Syiah bukan bagian dari Islam pada 15 Agustus 2017. Ketiga, posting-an soal Indonesia belum merdeka dari jajahan mafia China pada Kamis, 17 Agustus 2017.

Sedangkan posting-an lain mengenai antek-antek penjajah pada 18 Agustus 2017. Jonru dalam posting-annya menyebut penjajah nonmuslim dan yang melawan penjajah adalah mayoritas muslim.

“Selain itu, terdakwa mem-posting tulisan NU telah menerima uang Rp 1,5 triliun yang dikaitkan dengan pembubaran HTI serta mem-posting tulisan yang pada pokoknya menyatakan Jokowi adalah capres yang tidak jelas asal muasalnya,” kata hakim anggota membacakan unsur-unsur dalam putusan.

Sementara terkait vonis yang dijatuhkan padaanya, Jonru mempertimbangkan akan mengajukan banding. Hal itu ia sampaikan menjawab pertanyaan dari Majelis Hakim usai vonis dibacakan.

“Sama seperti JPU, saya masih pikir-pikir dulu untuk mengajukan banding,” ujar Jonru.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR