TGB: Yang Sekarang Menuduh Jokowi Mengkriminalisasi Ulama, Ada Dimana Saat Habib Rizieq Dipenjara?

Tuan Guru Barang saat di Rumah Cemara Jakarta

Ulama kharismatik Muhammad Zainul Majdi atau lebih dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB) menegaskan bahwa tudingan Presiden beberapa pihak yang mengatakan Joko Widodo (Jokowi) telah melakukan kriminalisasi terhadap ulama adalah tuduhan yang sangat tak mendasar.

TGB justru mempertanyakan keberadaan para penuding tersebut ketika Imam Besar FPI Rizieq Shihab dipenjara pada tahun 2003 dan 2008 di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). TGB mempertanyakan kenapa pemerintah SBY tak disebut telah mengkriminalisasi ulama.

“Saya suka menyinggung Al Habib Muhammad Rizieq Shihab dan pada waktu yang lalu ketika beliau mengahadapi proses hukum kemudian mendapatkan hukuman, itu tidak ada yang berteriak tentang kriminalisasi. Ada dimana mereka?,” ujar TGB di Rumah Cemara yang jugaTKN Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Kamis (7/2/2019).

TGB bahkan secara tegas mengatakan bahwa tuduhan Jokowi telah mengkriminalisasi Ulama hanyalah sebuah alasan untuk menutupi ketidak sukaan kepada Joko Widodo. Sehingga apapun yang dilakukan Jokowi selalu saja salah dimata mereka.

Padahal menurut TGB, didalam Al Qur’an sendiri Allah melarang manusia kehilangan rasa keadilan. Menurut TGB, jangan hanya karena tidak menyukai seseorang lantas semena-mena dalam menghakimi, lebih -lebih dibarengi tuduhan yang tak terbukti.

“Kesenangan atau ketidaksenangan itu jangan kemudian membuat kita berlaku tidak adil,” tandasnya.

Justru menurut TGB, Jokowi merupakan Presiden yang sangat menghormati Ulama dan umat Islam. Hal itu , ungkap TGB, terlihat dari seringnya Jokowi mengunjungi Pondok Pesantren dan bersilaturahim dengan tokoh-tokoh islan.

Jokowi juga menurut TGB adalah Pemimpin yang telah mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan umat Islam. Diantaranya, papar TGB, adalah diberlalukanya Bank Wakaf Mikro di Pesantren, kebijakan Dana Desa bahkan Jokowi telah menetapkan 22 Juli sebagai Hari Santri.

Kebijakan-kebijakan tersebut, papar TGB adalah jelas bentuk kebijakan yang dinikmati Umat dan bukan seperti piramida yang hanya runcing keatas. TGB menegaskan, membela Islam tak mesti harus dengan teriakan, namun merumuskan kebijakan yang dimanfaatkan dan dirasakan oleh masyarakat adalah bentuk lain dari membela islam karena Indonesia mayoritas masyarakatnya beragama islam.

“Dalam islam, konsep kepemimpinan itu tak harus melabelkan ini Islami, tanpa harus berteriak ini untuk umat. Tapi secara riil kemanfaatan dari kebijakanya dirasakan oleh masyarakat,” pungkasnya.

BAGIKAN