The Kadri Jimmo, Sukses Menaklukan Lagu ‘Seandainya Aku Bisa Terbang’

Foto art work cover album The Kadri Jimmo

The Kadri Jimmo, boleh jadi satu-satunya band rock dengan nafas progressive rock nan kental, yang dibentuk sejak tahun 2009 ini, masih kokoh berdiri ditengah gempuran musisi millenial, serta perubahan selera musik generasi zaman now, dan dominasi musik mainstream yang menghiasi televisi di Indonesia.

“Karena saya selalu percaya, untuk menaklukan industri musik Indonesia, harus dengan cara yang dinamis, memahami trend setiap perubahan selera dalam industri musik, dan menaklukannya satu persatu,” ungkap Kadri Mohamad Sutan Bandaro, arsitek band The Kadri Jimmo, yang memiliki networking paling lengkap dalam ekosistem musik di Indonesia.

Tepat 14 Februari 2018, The Kadri Jimmo (semula bernama Kadri Jimmo The Prinzes of Rhythm, lalu berubah menjadi KadriJimmo Soundscape), kembali membuktikan semangatnya untuk menaklukan industri musik Indonesia dengan melantunkan lagu ‘Seandainya Aku Bisa Terbang’ (SABT), yang sebelumnya dipopulerkan oleh Kahitna lewat album Cerita Cinta.

Disaat selera, cara dan gaya menikmati musik, mengalami perubahan signifikan, Kadri dan Jimmo, duo komposer ini, berani mengambil resiko, me-reinterpretasi lagu ciptaan Yovie Widianto, yang sangat populer sejak 1994. Bahkan, kembali dipublikasikan di youtube, oleh Kahitna, pada tanggal 14 Februari 2013, dengan viewers yang cukup besar.

“Justru kami mengikuti berbagai trend perubahan dalam industri musik. Konsep duo vokal dalam band kami, berbeda dengan gaya Kahitna. Dalam single ini kami melibatkan Rendy Pandugo, produser anak muda, yang menjadi tempat tukar pikiran sekaligus menjadi produser. Supaya karya ini, tepat sasaran ke market sekarang, dengan harapan bisa menaklukannya,” jelas Kadri, yang kerap menuturkan bahwa musik yang mereka mainkan, meskipun progressive, namun tetap terasa melodius.

Lebih jauh, Kadri yang dikenal sebagai Singing Lawyer ini, mengemukakan bahwa, jika Kahitna menyanyikannya ala Boy Band, maka The Kadri Jimmo, melantunkan lagu SABT tersebut dengan gaya akustik dalam armosfer sound scape.

Upaya Kadri dan Jimmo, 2 vokalis dengan latar belakang band yang berbeda sebelumnya, twrasa sangat serius untuk menaklukan lagu SABT yang berdurasi 4 menit 10 detik ini. Mereka memikirkannya, dengan sangat matang dan terukur.

Mulai dari soal aransemen lagu, penggarapan video klip hingga art work karya fotografer Hardi Budi, yang dipilih. Ada upaya kuat untuk menegaskan bahwa mendengarkan The Kadri Jimmo, berarti kita memasuki skena Power Pop, bukan area pop cengeng, apalagi masuk ke ruang pop menye-menye.

Aransemennya, diawali dengan petikan gitar akustik dalam aroma rockestrasi yang menonjol. Tak lebih dari 16 detik, vokalis Jimmo langsung menggoda dengan karakter vokal pada nada rendah, dalam lirik yang syahdu.

“Oh jauh sekali rumahmu, Kangen rindu semua ada, Selalu ada untukmu kekasih.”

Kadri dan Jimmo, vokalis dan komposer The Kadri Jimmo Band
Kadri dan Jimmo, vokalis dan komposer The Kadri Jimmo Band

“Lagu bagus banget ini. Lirik, musik, dan vokal sangat nyaman dinikmati,” puji Andy /RIF, sahabat The Kadri Jimmo yang kerap diajak kolaborasi.

Dalam video klip yang digarap oleh Candi Soeleman, yang pernah menggarap video klip Raisa, Afgan dan Isyana itu, dengan cerdas memasukkan fragmentasi lain, pada menit pertama lewat 12 detik, gambar dan suara kereta api menyeruak masuk ke dalam lagu, 3 detik menjelang bagian refrain lagu yang memang menjadi hook dari keseluruhan komposisi.

_”Seandainya aku bisa terbang, Kan kujelang engkau kekasih._ _Seandainya aku bisa terbang, Kan kugapai_ _engkau kekasih, Dan kupeluk engkau sungguh,_Untuk selamanya”_

Semula saya dan sejumlah penyanyi ternama Indonesia membayangkan, pada bagian refrain suara Kadri yang tajam dalam nada tinggi, muncul menohok. Tapi rupanya, daya pikat itu disimpan, dan baru dimunculkan pada durasi: 1′.52″. Ini pun sebatas repetisi dari potongan refrain dalam lirik _”Seandainya… seandainya…”_

Apakah ini taktik yang jitu?

“Munculnya vokal Kadri ditengah adalah kejutan yang membuat lagu ini jadi tambah satu warna lagi,” tanggap Aryo Wahab, vokalis The Dance Company, yang juga tengah menggarap album solonya itu.

Senada dengan Aryo tersebut, Andy /RIF, yang mencoba mendengar beberapa kali lagu ini, memberi tanggapannya, bahwa vokal Kadri meskipun tidak dominan tapi memberi tenaga yan memperkuat lirik yang disampaikan.

“Bravooo…,” tandas Andy.

Nampaknya The Kadri Jimmo, sadar betul, resiko penolakan yang akan diterima olah penggemar Kahitna yang feminim maupun penolakan dari penggemar The Kadri Jimmo yang sudah pasti dominan, maskulin itu.

Nah, mereka harus menyenangkan kedua-belah pihak dengan membagi secara proporsional dan seharmonis mungkin, dalam pola aransemen lagu. Bahkan dengan melibatkan orkestrasi yang grande. dari Alvin Witarsa. Sepertinya, upaya ini cukup berhasil.

Coba simak saja, strategi lainnya.
Duet vokal Kadri dan Aryo, mulai menghangat dan terasa sangat harmonis, sebagai 2 karakter yang berbeda itu, pada menit ke: 2′.25″

Aryo Wahab, yang relatif cepat memberikan komentarnya, mengatakan bahwa, duet suara Kadri dan Jimmo, merupakan paduan yang sangat seimbang dan enak didengar.

“Porsinya masing-masing pas, penempatannya juga akurat,” tandas Aryo yang pernah memperkuat band rock SOG dan FOS, sebagai vokalis.

Foto Group Band The Kadri Jimmo (istimewa)
Foto Group Band The Kadri Jimmo (istimewa)

Berbeda dengan Andy dan Aryo, Once Mekel, mantan vokalis Dewa19 ini, mencoba meliha dari sisi lain.

“Warna suara Kadri yang sebenarnya menarik, kurang tertampilkan dalam lagu ini, jadinya terkesan hanya backing vocal saja,” saran Once Mekel, yang kini bekerja dalam memproduksi album-album yang dijual digerai KFC.

Boleh jadi, apa yang menjadi prespektif Once, yang pernah duet dengan Kadri dalam sejumlah lagu itu, juga merupakan sisi lain yang akan muncul dikalangan penggemar The Kadri Jimmo.

“Sepertinya Kadri ini terlalu senang nyanyi berdua. Kebiasaan yang kayaknya belum hilang juga sejak menjadi vokalis bersama Harry Mukti di band Makara,” terang Once, sahabat karibnya.

Berbeda dengan Once, Candil, pelantun lagu ‘Rocker Juga Manusia’ ini, mencoba melihat karya lagu The Kadri Jimmo, yang diproduseri oleh GP Records ini, dari sudut pandang yang lain.

“Vokalnya Jimmo berhasil mengeluarkan nyawa baru dari lagu yang versi awalnya udah bagus banget. Ditambah vokal Mas Kadri yang punya warna beda banget dibanding Jimmo. Tapi menurut gue cukup berhasil melebur dengan karakter masing-masing,” tutur Candil, yang pertama kali mendengar suara Jimmo tahun 2003, dalam lagu ‘Pujaanku’ duet dengan Melly Goeslaw, soundtrack film laris, ‘Eiffel I’m Love’.

Mungkin ini subyektif, tapi menurut prediksi saya, lagu yang dibalut dengan klip indah, melibatkan Glenn Fredly dan Shelomita sebagai cameo, akan menarik perhatian yang cukup besar dari penikmat musik lintas generasi.

Betapa tidak, klip lagu ini, yang mengambil lokasi syuting di Jepang dsn berkisah tentang pacaran jarak jauh ini, telah ditonton oleh 10.854 viewers di Youtube (per tanggal 22 Februari 2018, pukul 13.00 WIB).

Bahkan, saat memulai tulisan ini, jumlah viewers baru 9.555 orang, dan mengalami perubahan signifikan pada 2 jam kemudian. Dan kelak bisa mencapai jumlah viewers lebih dari 50.000 orang setelah 3 bulan atau akan lebih besar lagi, menembus angka 100 ribu viewers, sepanjang tahun 2018 ini.

“Yang jelas terasa adalah, lagunya jadi lebih maskulin alias cowok banget!,” simpul Candil.

Seperti petikan liriknya,
“Ku kayuh sepeda kumbangku, Kuberhayal andai dapat, mengantarkanku sampai ke rumahmu.”

Semoga karya terbaru The Kadri Jimmo, yang kini digaeangi oleh Kadiri dan Jimmo (vokalis, komposer), Noldy (gitar), Popo Fauza (kibor dan piano), Soebroto Harry (bass), dan Iyoen Hayunaji (drums), sampai pula kekuping penggemarnya dan kerelung hati penikmat musik Indonesia lintas generasi.

Apakah The Kadri Jimmo, bakal sukses menaklukan lagu ‘Seandainya Aku Bisa Terbang’, sekaligus menaklukan industri musik yang sedang lesu?

“Saya mau generasi sekarang bisa merespons dengan mudah lagu ini. Sebuah anthem cinta Kahitna yang menjadi salah satu karya terbaik dari sahabat saya, Yovie Widianto. Kami menerjemahkan aransemen ‘Seandainya Aku Bisa Terbang’ lewat bahasa dan pendekatan musik The Kadri Jimmo, dengan karakter dan ruh lagu yang kuat ini untuk telinga musik pop Indonesia sekarang,” pungkas, Kadri, yang beberapa waktu lalu sukses mengarap ‘Konser Sang Bahaduri’, untuk mengormati Pahlawan Musik Indonesia, Jockie Surjoprayogo, sebelum wafatnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR