Tidak Betah Berpangkat Kolonel

Pada awal April ini, telah terbit Skep (surat keputusan) Panglima TNI tentang mutasi sekitar 400 perwira. Mungkin ini adalah gelombang mutasi terbesar, sebelum-sebelumnya maksimal 150 perwira, belum pernah ada mutasi perwira sampai sebanyak itu, dalam sekali terbit surat keputusan.

Satu hal yang membuat kita terkejut saat membaca skep tersebut, adalah begitu banyaknya pos (jabatan) yang secara tradisional merupakan jabatan kolonel, kini telah menjadi pos jenderal bintang satu (brigjen). Rasanya beberapa pos dimaksud sudah tepat untuk kolonel, dan kita tidak pernah mengira, bahwa pos tersebut akan dijadikan pos brigjen. Namun begitulah yang terjadi.

Dalam skep tersebut kita bisa membaca, semua Danrem di luar Jawa (kecuali Aceh), kini ditetapkan menjadi pos brigjen. Bagi Danrem di Jawa, sebagian memang masih menjadi pos kolonel, kecuali Danrem Yogyakarta yang sejak lima tahun lalu dipegang seorang brigjen. Kini sejumlah Danrem di Jawa juga bakal diisi brigjen, seperti Bogor (sudah terjadi), Surabaya, Banten, dan dua Danrem di bawah Kodam Jaya. Dengan demikian ada dua tipe Korem, yakni Korem tipe A (Danrem pangkat brigjen) dan Korem tipe B (Danrem pangkat kolonel).

Sekitar setahun lalu memang telah terbit regulasi (peraturan presiden) yang mengatur soal validasi lembaga dan penyesuian pangkat bagi sejumlah satuan, namun saya pribadi tidak mengira, bila pos baru yang dilahirkan demikian banyak. Saya membayangkan, kelak bakal terjadi sebuah fenomena, yang untuk mudahnya sebut saja “inflasi” jenderal. Karena jenderal yang ada, sudah melebihi kebutuhan.

Secara singkat bisa dikatakan, pos brigjen hari ini kira-kira setara dengan kolonel di masa orde baru. Sekadar memberi gambaran soal asumsi di atas, berikut adalah sejumlah daftar pos atau jabatan, yang sebelumnya secara tradisional adalah pos kolonel, kini telah dinaikkan statusnya menjadi pos brigjen (selain Danrem yang sudah disebut di atas).

Pertama, adalah para asisten Panglima Kostrad, ada sekitar 6 jabatan (asintel, asops, aspers, aslog, dan seterusnya). Kedua, jabatan direktur pada lembaga pembinaan kecabangan (Pussenif, Pussenkav, Pussenarmed dan Pussenarhanud), seperti Direktur Pembinaan Kesenjataan (dirbinsen), Direktur Umum, dan seterusnya kini menjadi pos brigjen, termasuk bagi Komandan Pusdikif (Pusat Pendidikan Infanteri). Dengan demikian, eselon di atasnya juga disesuaikan, Komandan Pussenif misalnya, menjadi pos bintang tiga (letnan jenderal), kemudian Komandan Pussenkav, Pussenarmed dan Pussenarhanud, menjadi pos mayjen (bintang dua).

Ketiga, di jajaran Markas Kodam, kini ada tiga jabatan untuk brigjen, bila sebelumnya hanya satu (Kasdam). Dua jabatan lain (selain Kasdam) adalah Irdam (Inspektur Kodam) dan Kepala Kelompok Staf Ahli (Kapoksahli) Pangdam.

Secara singkat bisa saya katakan, ada tambahan begitu besar untuk pos brigjen, yang di masa lalu mungkin tak terbayangkan sama sekali. Catatan penting lain soal mutasi baru-baru ini adalah, meski jumlah perwira yang dipromosikan besar, ternyata tidak mencerminkan proses alih generasi.

Begitu banyaknya tambahan pos jenderal, masih saja memprioritaskan pada generasi senior. Kalau parameternya adalah KSAD Jenderal Andika (Akmil 1987), mutasi kali ini lebih memberi ruang pada senior Andika, khususnya dari Akmil 1985 dan Akmil 1986. Dalam bahasa sehari-hari (slank) fenomena ini biasa disebut sebagai “cuci gudang”. Maksudnya, perwira Akmil 1985 dan Akmil 1986, secara masif mereka ditempatkan pada pos pati, sebelum pensiun sebentar lagi.

Setidaknya ada dua posisi strategis yang masih dipegang Akmil 1985, yakni Wakil KSAD Mayjen M Fachruddin (sebelumnya Asops KSAD), dan Asops KSAD Mayjen Surawahadi (sebelumnya Koordinator Staf Ahli KSAD). Nama lulusan Akmil 1985 lain, yang masih menjadi figur publik adalah Letjen Doni Munardo (Kepala BNPB), yang rasanya tidak mungkin kembali lagi masuk struktur TNI.

Tambahan pos atau jabatan bagi pati sungguh bisa dimengerti, sebagai cara untuk menyalurkan penumpukan kolonel, yang tanpa jabatan (nonjob). Selain itu ada fenomena laten dalam TNI, yakni soal aspirasi lulusan Akademi TNI (Akmil, AAU, dan AAL), yang semuanya ingin menjadi pati. Hingga sampai pada suatu fase, ketika pos pati yang disiapkan, tetap saja tidak mencukupi, artinya akan selalu ada sejumlah kolonel yang tidak mencapai strata pati sampai saat pensiun tiba.

Selama masih berdinas aktif, setiap kolonel tidak akan pernah berhenti berharap untuk segera dipromosikan pada pos pati (bintang satu), entah bagaimana caranya. Pendeknya, menjadi brigjen (kalau bisa lebih tinggi lagi) adalah segalanya bagi seorang lulusan Akmil, termasuk AAL dan AAU. Itulah puncak kehidupan seorang perwira.

Memang ada sejumlah pamen (perwira menengah) yang cukup tahu diri, yang tidak terlalu berangan-angan menjadi jenderal, yaitu mereka yang tidak sempat mengikuti Seskoad (termasuk Seskoal atau Seskoau). Bila sudah pernah mengikuti Seskoad, terlebih berlanjut ke Sesko TNI, cita-cita itu akan terus melekat, ibarat sebuah obsesi.

Banyaknya pos brigjen yang ditambahkan dalam struktur TNI, sepertinya justru berpotensi meningkatkan stres bagi sejumlah kolonel, khususnya bagi mereka yang sangat ambisius. Maksudnya begini, di masa sebelumnya, ketika pos brigjen masih terbatas, wajar bila pos brigjen tidak dapat diraih.

Sementara sekarang, ketika pos brigjen demikian banyak, tetap saja akan ada kolonel yang tidak masuk formasi pati, atau “tersingkir”. Bagi kolonel yang kurang kuat mental, dia akan bosan, dan lebih jauh bisa frustrasi berkepanjangan. Fenomena seperti ini yang harus dihindari.

 

Penulis Aris Santoso, dikenal sebagai Pengamat TNI, yang saat ini bekerja sebagai editor buku

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR