Tinjau Terowongan Nanjung, Menteri PUPR: Keberhasilan Program Citarum Harum Perlu Sinergitas Pemerintah dan Masyarakat

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mendampingi Presiden saat mengunjungi pembangunan Terowongan Nanjung yang menjadi bagian dari Program Citarum Harum

Presiden Joko Widodo pada Minggu, 10 Maret 2018 mengunjungi pembangunan Terowongan Nanjung di Kabupaten Bandung yang menjadi bagian dari Program Citarum Harum. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono yang mendampingi Presiden mengatakan, keberhasilan Program Citarum Harum memerlukan sinergitas antara Pemerintah dan masyarakat. Pemerintah yang dimaksud adalah Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Menurut Basuki, penataan Sungai Citarum harus menyeluruh dari hulu ke hilir. Ia menjelaskan, Kementerian PUPR telah melakukan penanganan Sungai Citarum sejak lama, diantaranya melakukan pengerukan sungai. Namun dalam dua tahun terjadi kembali sedimentasi yang dibawa dari hulu sungai.

“Ini karena bergantung pada kondisi Hulu Sungai Citarum di Cisanti. Itu bukti bahwa tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan engineering saja,” kata Basuki.

Menteri Basuki menjelaskan bahwa Kementeriannya tengah menyelesaikan pembangunan Sistem Pengendalian Banjir Sungai Citarum Hulu berupa normalisasi sungai di hulu, pembanguan Embung Gedebage, pembangunan kolam retensi Cieunteung, pembangunan Floodway Cisangkuy dan Pembangunan Terowongan Nanjung. Pembangunan infrastruktur pengendali banjir juga bertujuan mendukung Program Citarum Harum.

Sementara Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR Hari Suprayogi mengatakan, saat musim hujan debit Sungai Citarum yang besar tertahan batuan besar di Curug Jompong yang juga merupakan situs budaya. Dengan dibangun terowongan menurutnya, akan memperlancar aliran dan meningkatkan kapasitas Sungai Citarum.

Terowongan Nanjung bersama infrastruktur pengendali banjir Sungai Citarum lainnya, seperti kolam retensi Cieunteung, floodway Cisangkuy, Embung Gedebage, akan menurunkan luas genangan 700 hektare, dari semula 3.461 hektare menjadi 2.761 hektare. Artinya, kata Hari Suprayogi, akan ada 14.000 KK yang merasakan manfaat dari pembangunan terowongan Nanjung.

“Apabila 1 hektare dihuni oleh 20 kepala keluarga (KK) maka akan ada 14.000 KK yang merasakan manfaat dari pembangunan terowongan ini,” kata Hari Suprayogi.

Terowongan juga dilengkapi oleh check dam di sisi outlet yang akan menahan sedimen agar tidak masuk ke Waduk Saguling yang berada di bawahnya. Pada musim hujan aliran sungai Citarum sebagian besar dialirkan melalui terowongan. Pada musim kemarau, pintu terowongan akan ditutup sehingga dapat dilakukan pengerukan sedimen.

Sementara Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum Bob Arthur Lambogia mengatakan terdapat daerah yang berada lebih rendah dari elevasi sungai seperti Dayeuhkolot sehingga genangan tidak dapat dialirkan. Oleh karenanya diperlukan pembangunan kolam-kolam retensi yang akan menampung air pada saat musim hujan.

“Kolam retensi yang telah kami bangun adalah Kolam Retensi Cieunteung yang akan mengurangi banjir di Dayeuhkolot dan Baleendah. Masih diperlukan pembangunan kolam retensi lagi,” kata Bob Arthur.

Turut mendampingi Menteri Basuki yakni Direktur Sungai dan Pantai Jarot Widyoko, Kepala BBWS Citarum Bob Arthur Lambogia, Direktur Operasi PT Wijaya Karya Agung Budi Waskito dan Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S. Atmawidjaja.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR