Tito Karnavian

Ya. Tito Karnavian. Selama dua minggu terakhir, nama berbau Armenia ini berhasil menyedot perhatian. Sebabnya, tentu karena dialah jawaban atas teka-teki tentang siapa Kapolri pengganti Jenderal Pol Badrodin Haiti.

Berbeda dengan proses pergantian Kapolri sebelumnya yang gaduh dan memantik polemik, kali ini keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mendapuk Tito jadi calon tunggal Kapolri sepertinya cukup berhasil membuat prosesnya berlangsung lebih “smooth” dan nyaris tanpa perlawanan.

Dari berbagai pemberitaan media nampak terlihat hampir semua kalangan mendukung keputusan Jokowi. Bahkan tak sedikit yang mengumbar pujian, termasuk dari legislator di Senayan. Hingga kemudian, panggung drama politik atas nama undang-undang secara sah dan aklamasi menetapkan Tito untuk menjadi pimpinan tertinggi Korps Bhayangkara berikutnya.

Bagaimanapun, kita tentu layak mengapresiasi keputusan Presiden dan proses politiknya di DPR. Setidaknya, proses tersebut berhasil menyelesaikan satu soal penting tanpa menimbulkan kegaduhan publik yang tidak perlu sebagaimana yang terjadi sebelumnya. Hal itu sekaligus mengisyaratkan adanya niat baik semua pihak untuk mendudukan kepentingan “Merah Putih”  melampaui kepentingan lain yang sempit.

Kita menyadari bahwa memilih Tito tentu bukan pilihan tanpa risiko. Kita mencatat adanya penilaian sejumlah kalangan yang menyebut pilihan itu potensial merusak tatanan “baku” kaderisasi kepemimpinan di tubuh Polri. Kalangan ini menilai Tito terlalu “yunior” dan terlalu cepat melompati anak tangga kepemimpinan dibanding sejumlah perwira tinggi atau pati seniornya, baik yang masih aktif dan menjabat maupun pati “tanpa kursi” di Mabes Polri.

Faktanya menunjukan, selama dua tahun terakhir Tito menjalani permutasi jabatan yang cukup luar biasa. Setidaknya sejak menjabat Kapolda Metro Jaya, BNPT, dan kelak selanjutnya Kapolri. Perjalanannya karirnya dapat disebut mirip Jokowi yang beranjak dari kantor Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga Istana Negara dalam tempo yang sama.

Tentu, fakta itu pada akhirnya tak lebih dari sekedar bagian dari curriculum vitae masing-masing. Bahwa ada keistimewaan, ya. Tapi, tak lebih dari itu dan tak perlu dilebih-lebihkan.

Hal terpenting adalah kita mengiringi langkah Tito Karnavian dengan catatan dan harapan, serta keraguan yang sederhana dan wajar-wajar saja. Bukan pada tempatnya kita mengiringinya dengan pujian dan ekpektasi terlalu berlebihan. Kita perlu memberi ruang kepadanya untuk membenahi Polri dengan leluasa, tanpa merasa berada dalam sangkar harapan yang menindih dan sekaligus memabukkannya.

Dari panggung Parlemen, legislator Komisi III DPR menghantar promosinya dengan 13 poin catatan dan harapan. Semuanya terbaca sangat ideal,  “enak dibaca dan perlu” untuk kebaikan Polri. Meski harus pula diakui bahwa hal tersebut teramat berat dilakukan, apalagi bila jadi pikulan di pundak Tito sendirian. Tentu, kita tak sedang bermaksud meragukan kemampuannya. Bagaimanapun, risiko gagal pasti terbuka, sejalan dengan kemungkinan berhasilnya.

Kita lebih baik percaya saja bahwa Presiden dan DPR telah memilih dan menetapkan figur terbaik di pucuk pimpinan Polri. Dengan senarai prestasi dan kapasitas personalnya yang mendapat pengakuan sejumlah kalangan, kita layak berharap Tito mampu menuntaskan ke-13 catatan dan harapan itu. Terlebih, dalam konteks pelembagaan internalnya, Polri juga telah memasuki tahap “Strive for Excellence” dari 2015-2025 yang merupakan tahap terakhir dalam Grand Strategi Pembangunan Jangka Panjang Polri 2005-2025.
Satu hal, Tito setidaknya mampu membuat wajah Polri menjadi “bersih”, seperti dirinya menurut Kompolnas, PPATK, KPK, dan kalangan lainnya. Itulah barangkali harapan kita yang paling sederhana.

Apakah Tito akan mampu mewujudkannya? Tentu waktu akan membuktikannya. Yang patut dicatat, keseharian masyarakat umumnya hanya bergaul dan bergumul dengan aparat Polri yang bertugas di kantor setingkat pospol, sektor, atau setinggi-tingginya resor. Bukan dengan Pati-Pati di Mabes Polri.

Jadi, wajah Tito yang “bersih” tak akan pernah cukup mewakili wajah Polri secara keseluruhan. Wajah Polri juga bukan wajah bening dan jelita Brigadir Avvy Olivia, Briptu Dara Intan, atau Briptu Eka Frestya. Melainkan tercermin dan dicerminkan oleh perilaku seluruh aparat Polri ketika mengayomi dan melayani masyarakat sebagai Tuan yang sesungguhnya.

Selamat untuk Tito Karnavian dan seluruh keluarga besar Korps Bhayangkara. Selamat bekerja. (np)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR