TNI dan Pemuda Di Nunukan Ubah Sampah Plastik Menjadi Paving Block

Keterangan foto: paving block dari sampah plastik hasil kreatifitas para remaja di Nunukan

Predikat negara kedua di dunia sebagai penyumbang sampah plastik terbesar adalah sebuah ‘tamparan’ dan tantangan sekaligus hikmah bagi semua lapisan masyarakat Indonesia. Tamparan karena Indonesia dipandang negatif dalam kebersihan, tantanngan untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan hikmah karena merasa terpanggil untuk mejagaga keseimbangan alam.

Berbagai program dikeluarkan, berbagai aksi pun dilakukan demi terwujudnya lingkungan yang bersih dan lestari. Tak terkecuali di Nunukan, Kalimamtan Utara. Di Kabupaten yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia ini, perang terhadap sampah plastik digelorakan. Mulai dari Bupati Nunukan Laura Hafid yang bahkan sampai mengeluarkan Perbub, kampanye kebersihan dari para aktivis lingkungan hingga munculnya kreatifitas untuk mendaur ulang sampah plastik.

Sebagaimana yang dilakukan Sukardi anggota Babinsa dibawah Komando Rayon Militer 0911-01/Nunukan. Pria berpangkat Sersan Satu tersebut berkalaborasi dengan para pemuda dan pemudi yang tegabung dalam Karang Taruna Pagun Taka tak hanya mengkapanyekan dan aksi langsung dilapangan. Namun mereka juga mendaur ulang sampah-sampah plastik yang mereka kumpulkan menajadi barang berdaya guna berupa paving block.

Diakui oleh Rusli, Ketua Karang Taruna Pagun Taka, ide tersebut muncul ketika paaca aksi kebersihan, lantas akan dikemanakan limbah-limbah tersebut. Ahirnya dengan tekat kreatifitas walau bermodalkan alat-alat sederhana, paving block hasil limbah tersebut dapat mereka buat.

“Ini berkat Babinsa yang selalu ada untuk kami dan mendorong kami untuk membuat terobosan baru setiap ada masalah atau kendala. Prinsipnya kata pak Babinsa, tidak ada permasalahan tanpa solusi, semua itu ada tinggal kita saja yang mengolahnya seperti apa,” tutur Rusli, Senin (2/9/2019).

Dalam sehari, lanjut Rusli, anggotanya dapat menghasilkan 4 hingga 8 buah paving block. Kekuatan paving hasil limbah sampah tersebut menurut Rusli jauh lebih tahan dari paving umumnya. Namun ia belum berkomentar banyak mengenai arah bisnis dari paving-paving tersebut. Ia hanya menegaskan bahwa segala sesuatu akan bermanfaat apabila dikelola dengan baik termasuk sampah.

Sertu Sukardi sendiri mengaku bangga dengan para remaja dari Karang Taruna tersebut. Karena selain mempunyai rasa kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, menurut Sukardi, mereka sangat kreatif. Hal tersebut apabila diakomodir dengan baik, pasti selain segi ekonimis juga secara langsung turut menjaga lingkungan.

“Tentu saya bangga terhadap mereka. Selain mempunyai kepedulian tinggi terhadap lingkungan, kreatif, dan inovatif,” ujar Sukardi.

Sementara itu Aktivis Lingkungan Hidup Niko Ruru menyatakan apresiasinya terhadap pihak TNI dan para remaja dalam kreatifitasnya tersebut. Menurut Niko, niat mengurangi sampah plastik adalah hal yang sangat baik dan perlu aksi. Apalagi menurutnya, Nunukan termasuk produsen sampah plastik yang besar dari limbah budidaya rumput laut.

“Pada prinsipnya niat anak- anak muda untuk mengurangi sampah plastik, patut diapresiasi. Namun juga harus dicarikan solusi karena begitu paving yang digunakan rusak, pasti kembali menjadi sampah plastik lagi,” ujarnya.

Solusi yang paling tepat, ungkap Niko adalah semua pihak mengurangi penggunaan sampah plastik. Gerakan ini mungkin sudah dimulai di beberapa organisasi perangkat daerah seperti Dinas Lingkungan Hidup yang sudah berkomitmen mengurangi penggunaan plastik untuk minuman misalnya.

“Ini juga harusnya bisa diikuti semua instansi pemerintah, swasta termasuk masyarakat,” katanya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR