Tolak Reklamasi, Masyarakat Bali Gelar Ritual Mapekelem dan Nyamleh di Kawasan Teluk Benoa

Masyarakat Bali memiliki khasanah budaya khas dan tak berbatas dalam memperjuangkan sesuatu, termasuk perjuangan menolak  rencana reklamasi Teluk Benoa. Penolakan tidak hanya dilakukan secara “Sekala” namun juga dilakukan secara “Niskala”.

Bertepatan dengan Tilem Sasih Ketiga, Sabtu (1/10/2016), Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa, kembali melakukan penolakan reklamasi secara niskala dengan melakukan ritual upacara Mapekelem dan Nyamleh Kucit Butuan.

Ritual tersebut dihadiri dan disaksikan oleh semua Bendesa Adat serta perwakilan dari Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) dari setiap wilayah.

Koordinator Pasubayan, Wayan Swarsa menjelaskan, ritual tersebut dilakukan sebagai suatu bentuk dari harmonisasi antara Bhuana Agung atau alam semesta dengan Bhuana Alit yakni manusia. Ritual ditujukan untuk menyelamatkan kawasan suci Teluk Bbenoa dari ancaman reklamasi.

“Aksi dalam menolak reklamasi kami lakukan secara Sekala dan Niskala. Dalam hal Sekala kami acapkali beraspirasi dengan turun kejalan bahkan hampir setiap minggu, sedangkan dalam hal Niskala kami lakukan dengan aktivitas ritual ini yakni upacara mapekelem dan nyamleh Kucit Butuan,” ujar Wayan Swarsa.

Ritual yang digelar Pasubayan, lanjut Wayan Swarsa, diselenggarakan di lima titik suci sesuai dengan arah lima penjuru mata angin. Di masing-masing titik tersebut, upacara dipimpin langsung oleh para pemangku dari Desa Adat, lalu, di dampingi oleh masing-masing Bendesa Adat.

“Untuk di titik utara oleh Desa Adat Kepaon,  di timur oleh Desa Adat Tanjung Benoa, di titik barat oleh Desa Adat Kelan, di selatan oleh Desa Adat Bualu, dan di titik tengah oleh seluruh Desa Adat,” jelasnya.

Seluruh pembiayaan ritual di masing-masing titik, kata Wayan Swarsa, ditanggung langsung oleh desa adat yang bersangkutan. Selain diadakan di Pura, menariknya, upacara tersebut juga digelar di muntig-muntig. Upacara yang diadakan di muntig-muntig atau daratan pasang surut tersebut sekaligus membantah klaim investor yang menyatakan muntig sebagai pendangkalan.

“Tempat kami melakukan upacara Mapakelem dan Nyamleh Kucit Butuan ini yaitu di lima titik suci di lima penjuru mata angin termasuk muntig yang berada di kawasan Teluk Benoa. Pelaksanaan upacara di muntig-muntig ini sekaligus membantah klaim investor yang menyatakan muntig sebagai pendangkalan. Muntig adalah daratan pasang surut dan titik-titik yang kami sucikan,” kata Bendesa Adat Kuta tersebut.

Seperti mendapat restu dari semesta, sepanjang dilakukannya prosesi upacara Mapekelem dan Nyamleh Kucit Butuan sampai dengan selesai cuaca sangat bersahabat, tidak ada panas terik dan juga tidak dirudung hujan.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR