UINSA Menerbitkan Buku Bacaan Berkualitas Berbasis NKRI

Buku-buku bacaan berbasis NKRI dan Ramah Anak yang dikembangkan akademisi UINSA. (Dokumen)

Program gerakan literasi sekolah yang belakangan mulai mendapat respon pemerintah, membuat kalangan akademis Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), bergiat menerbitkan buku-buku bacaan berkualitas bagi siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Salah satunya, UINSA Menerbitkan buku bacaan berkualitas berbasis NKRI

Dengan didukung oleh Kementerian Agama, UINSA telah menerbitkan buku bacaan yang bersifat berjenjang. Buku-buku itu berisi dan dikemas sesuai dengan nilai-nilai dan budaya NKRI, terutama penanaman rasa kebersama dalam berbangsa dan bernegara sejak dini.

Buku yang diterbitkan, juga memperhatikan cover dan desain yang digunakan, supaya menarik bagi anak-anak sekolah dasar. Hal ini karena memperjatikan hak-hak anak sebagai subyek utama pengguna buku.

“Buku bacaan berjenjang ini khusus kami buat untuk membantu guru dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa sejak dini dan menghadirkan nilai-nilai dan budaya-budaya yang ada di Indonesia,“ kata Ketua Laboratorium Pembelajaran Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UINSA, Evi Fatimatur Rusdiyah, pada Ahad, 4 Maret 2018.

Masih kata Evi, desain buku ini juga dirancang cukupo menarik sedemikian rupa, agar anak-anak  lebih tertarik untuk membaca. “Misalnya dengan ilustrasi karikatur lomba karapan sapi, tolong menolong sebagai kebiasaan yang baik, pelabuhan kotaku yang memperkenalkan keunggulan pelabuhan,“ ujar Evi.

Evi yang menyampaikan, pada saat acara reviu buku tersebut, juga dihadiri kalangan guru berbagai tingkatan sekolah dasar. Selain itu psikolog, budaya, praktisi literasi, dan dosen-dosen dari beberapa provinsi di Indonesia.

Selain buku bacaan, UINSA juga mengembangkan aplikasi Ayo Membaca yang digunakan untuk untuk mengukur kemampuan membaca siswa. Melalui aplikasi ini, sebut Evi, pengguna dapat mengetahui jenjang kemampuan membaca siswa di sekolah.

Para guru, dosen, psikolog, budayawan, adan aktivits literasi bersama penulis dan desainer buku berdiskusi mereviu buku bacaan berbasis NKRI dan Ramah Anak.
Para guru, dosen, psikolog, budayawan, adan aktivits literasi bersama penulis dan desainer buku berdiskusi mereviu buku bacaan berbasis NKRI dan Ramah Anak.

“Tujuannya untuk memberikan buku-buku bacaan yang sesuai dengan jenjang kemampuan membaca siswa. Sehingga siswa menjadi lebih mudah memahami isi buku yang mereka baca. Bila mereka sudah senang membaca karena memahami isinya yang menarik maka akan tumbuh budaya membacanya,”  jelas Evi.

Aplikasi Ayo Membaca yang dikembangkan UINSA bersama Pemerintah Kota Surabaya, untuk mengukur kemampuan membaca para siswa di kota tersebut.

“Sekarang aplikasi tersebut sudah bisa dimanfaatkan dan dapat dimanfaatkan di seluruh Indonesia bersama dengan buku-buku bacaan berjenjang, “ tandas Evi.

Sementar itu menurut Dekan FTK UINSA Prof Ali Mudhofir, pembuatan buku bacaan berjenjang dan aplikasi ini, dimaksudkan sebagai dukungan konkret akademisi untuk menumbuhkan minat baca. Selain itu juga untuk meningkatkan kemampuan literasi, serta membuat siswa LEBIH mencintai tanah airnya.

“Ini juga bentuk implementasi visi dan misi kami yang selalu punya inovasi dan kreativitas dalam pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan pengabdian masyarakat,” ungkap guru besar yang biasa disapa Dhofir ini.

Pembuatan buku bacaan berjenjang berbasis NKRI ini, juga mendapat tanggapan dari aktivis literasi Heni WR dari Mata Aksara Yogjakarta. Menurut Heni, Aplikasi Ayo Membaca dan penerbitan buku ini merupakan langkah konkret pihak UINSA dalam pengembangan literasi.

“Ini bukan sekadar wacana tapi langkah konkret yang positif, di mana seiring bermuncualnnya bacaan yang kurang berguna dan mejadi ancaman anak, Aplikasi Ayo Membaca lebih akan bermanfaat ke depannya,“ ucap Heni.

Heni juga menyebutkan, setelah membaca buku-buku bacaan ini. Heni mengaku bisa belajar dan kesepahaman dalam menyediakan buku. “Kami tentunya bisa belajar dan membangun kesepahaman dalam menyediakan buku-buku bacaan yang berkualitas untuk anak,” tandas aktivis literasi penerima anugerah TBM Kreatif Rekreatif dari Mendikbud tahun 2012 itu.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR