Uji Puslit Kopi dan Kakao Jember, Kopi Sarongge Masuk Kategori Kopi Speciality

Sertifikat hasil uji rasa yang menunjukan Kopi Sarongge masuk katagori Kopi Speciality.

Kopi Sarongge jenis arabica yang diolah secara natural masuk dalam katagori kopi speciality, setelah tahun ini mendapat skor 87,5 dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslikoka). Dari berita di situsnya, dijelaskan bahwa pengujian itu dilakukan pada tanggal 24 -26 Juni 2019.

https://kopisarongge.com/sarongge-natural-raih-skor-87,5/ dijelaskan, pengujian dilakukan pada 24 -26 Juni 2019.

Hasil ini menggambarkan upaya yang sungguh-sungguh mulai dari proses penanaman sampai pasca panen. Yang menarik, meski baru pertama kali diuji cita rasa, kopi hasil perhutanan sosial ini, melampaui batas untuk disebut kopi specialty, yang mensyaratkan nilai 80.

Santoso, penggagas dan pendamping masyarakat yang menanam kopi di Desa Sarongge Cianjur, menjelaskan mengenai aspek yang dinilai dalam uji cita rasa tersebut. Ia mengungkapkan, beberapa aspek seperti: uniformity, clean cup dan sweetness, kopi Sarongge memperoleh skor sempurna, yakni 10.

“Tingkat defect 0. Dan flavour serta body mendapat skor 8,5. Secara total skornya 87,5” ujar Santoso

Ia menambahkan, dalam aspek rasa (flavor) kopi Sarongge dinilai oleh para penguji Puslitkoka, kopi ini memiliki rasa: caramelly, brown sugar, dried fruit, flowery, honeyed, yang bersih.

Santoso (kanan) ditengah-tengah kebun Kopi Sarongge
Santoso (kanan) ditengah-tengah kebun Kopi Sarongge

“Nilai 87,5 memastikan kopi dari Kampung Sarongge, Cianjur ini masuk dalam kategori specialty coffee,” jelas Santoso kepada indeksberita.com

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa, Kopi Sarongge merupakan sebuah gerakan lingkungan dan kemandirian ekonomi petani. Kopi ditanam petani Sarongge sebagai upaya merawat hutan dan menambah penghasilan.

“Mereka mendapat izin perhutanan sosial, untuk menanam kopi di bawah tegakan hutan. Varietasnya campuran: Lini S, Sigararutang, Andungsari dan Typica,” urainya.

Ia kemudian bercerita, kebun dan talun (agroforestry) yang dimanfaatkan petani menyebar di ketinggian 1.000-1.600 mdpl. Saat ini sekitar 100 keluarga tani sejak tahun 2015 bertanam kopi di tiga desa: Ciputri, Pakuwon dan Ciherang-Kecamatan Pacet dan Sukaresmi, Cianjur. Lahan yang digarap seluas 120 ha.

Mengenai hubungan antara petani dengan Kopi Sarongge, Santoso menjelaskan, bahwa para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH): Satria Mandiri, Rindu Alam dan Maju Barokah itu, adalah mitra Kopi Sarongge, yang menyediakan cherry terbaik untuk diolah menjadi kopi Sarongge.

“Skor tinggi untuk arabica Sarongge Natural ini, adalah penghargaan untuk jerih payah dan kesungguhan mereka mengelola kebun kopi, dan merawat hutan,” pungkasnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR