Ungguli 14 Kota Besar Dunia, Surabaya Menjadi Kota Favorit Dunia 2018

Keterangan foto, Salah satu ruas jalan di Kota Surabaya. (Foto Facebook Aan Antiek's)

Kota Surabaya, Jawa Timur kembali mengukir prestasi. Tak tanggung-tanggung, kali ini Kota Surabaya menjadi Kota favorit dunia di ajang penghargaan bergengsi dunia “The 4th Guangzhou International Award for Urban Innovation” yang digelar di Guangzhou, China, Kamis (5/12/2018).

Konsul Jenderal RI Untuk Guangzhou, Gustanto, melalui siaran pers yang diterima redaksi, Jumat (7/12/2018) mengungkapkan bahwa terpilihanya ‘Kota Pahlawan’ tersebut sebagai Kota Favorit Dunia, setelah melewati seleksi ketat. Selain mendapatkan lebih dari 1,5 juta suara daring, Gustanto menuturkan bahwa Surabaya juga mengungguli 14 Kota besar di Dunia.

“Surabaya berhasil menjadi kota favorit pada Guangzhou Award 2018 dengan mendapatkan lebih dari 1,5 juta suara daring dan mengungguli 14 Kota besar laianya di dunia. Penghargaan sendiri diterima langsung oleh Walikota Surabaya Ibu Tri Rismaharini,”
tutur Gustanto.

Kota-kota yang harus mengakui keunggulan Surabaya tersebut adalah kota-kota adalah Sydney (Australia), Repentigny (Canada), Milan (Italy), eThekwini (South Africa), Guadalajara (Mexico), Utrecht (Netherlands), New York (USA), Yiwu (China), Santa Ana (Costa Rica), Kazan (Russia), Mezitli (Turkey), Santa Fe (Argentina), Salvador (Brazil), dan Wuhan (China).

Untuk Guangzhou Award 2018, lanjut Gustanto, panitia telah menerima 273 aplikasi dari 193 kota di 66 negara. Dari jumlah tersebut, panitia kemudian menyeleksi dan memutuskan 15 finalis, dan membaginya ke dalam 4 kategori, yaitu “Accessible Cities”, “Cooperative Cities” , “Inclusive Cities”, dan “Resilient Cities

“Kelima belas kota finalis juga ¬†mempresentasikan proyek terpilih mereka dalam International Seminar “On Learning from Urban Innovation” pada 6 Desember 2018, di hadapan dewan juri dan ratusan peserta seminar termasuk Ibu Risma yang mempresentasikan secara langsung Kota Surabaya,” paparnya

Diketahui, Guangzhou Award sendiri diselenggarakan oleh United Cities and Local Governments (UCLG), World Association of the Major Metropolises (Metropolis), dan Pemerintah Kota Guangzhou. Sedangkan Award tersebut menekankan pada inovasi dan pencapaian penting kota-kota di seluruh dunia, serta pembangunan yang harmonis dan berkelanjutan.

Sementara itu, berdasarkan rilis Pers dari Pemkot Surabaya kepada indeksberita.com , Tri Risma di ajang ¬†“The Guangzhou International Award 2018” tersebut diantaranya memaparkan kegotong royongan semua lapisan masyarakat di Kota Surabaya terutama dalam mengolah limbah.

Diantaranya Risma menyebutkan bahwa pada 2003, Kota Surabaya mengalami masalah besar sampah. Saat itu, Surabaya dikenal sebagai kota yang panas, kering, dan sering banjir selama musim hujan. Hampir 50 persen dari total wilayah Surabaya banjir kala itu. Terkait hal tersebut, didepan 400 juri Risma mengungkapkan bahwa pihaknya menginisiasi serta memotivasi masyarakat guna saling bersinergi mengatasi sampah dan limbah.

“Alasan kami mengajak masyarakat berpartisipasi , karena Kota Surabaya memiliki masalah besar untuk diselesaikan, tetapi dengan anggaran terbatas yang tersedia,” ujar Risma dalam presentasinya.

Risma juga menuturkan terkait Pemkot Surabaya yang menciptakan berbagai macam program dan kebijakan untuk menyelesaikan masalah ini, agar tidak membebani anggaran lokal, di antaranya yakni mengajak masyarakat untuk ikut berperan serta bersama pemerintah mengatasi permasalahan sampah.

“Warga mulai diajarkan bagaimana mengelolah sampah secara mandiri, yang berkonsep pada 3R (Reuse, Reduce dan Recycle). Partisipasi publik yang kuat menjadi faktor utama keberhasilan Kota Surabaya dalam mengatasi permasalahan sampah,”¬†paparnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR