Usung Tema Kegotong Royongan, PAKUWAJA Gelar Grebeg 1 Muharam di Nunukan

Suasana Kirab Grebeg 1 Muharam 1440 Hijriyah di Kota Nunukan yang dilaksanaoan oleh PAKUWAJA Kabupaten Nunukan. (Eddy Santry)

Hari ini Umat Islam diseluruh dunia menyambut Tahun Baru 1440 Hijriyah, berbagai kegiatan bernuansa keagamaan dilakukan diberbagai tempat mulai pengajian, istighozah dan kegiatan-kegiatan lainnya. Tak terkecuali di Kota Nunukan, Kalimantan Utara. Di wilayah yang berbatasan langsung dengan Sabah-Malaysia ini, ada hal yang unik dari tahun-tahun sebelumnya, ribuan masyarakat yang tergabung dalam PAKUWAJA (Paguyuban Keluarga Jawa) menggelar prosesi Grebeg dan Kirab 1 Muharam.

Prosesi Kirab sendiri dimulai pada Senin pukul 16:00 Wita. Dengan mengarak Tumpeng setinggi 1,5 meter yang dipikul oleh para Pendekar Setia Hati Terate, masa berkonvoi dengan berjalan kaki menyusuri jalan protokol di Kota Nunukan. Pantauan dilapangan, masyarakat nampak antusias dengan menyediakan air minum dipinggir jalan untuk para peserta kirab.

Ketua PAKUWAJA Kabupaten Nunukan Edy Mulyanto kepada pewarta mengatakan bahwa melalui prosesi Kirab dan Grebeg 1 Muharam 1440 Hijriyah kali ini pihaknya ingin berpesan kepada masyarakat luas tentang pentingnya kegotong royongan.

“Tumpeng diusung oleh para Pendekar Terate itu maknanya bahwa hidup bergotong royong untuk meraih kesuksesan itu penting. Dan diusung oleh para Pendekar maksudnya agar anak-anak muda jangan hanya berpangku tangan menikmati kemerdekaan tapi bagaima cara mengisi kemerdekaan dengan hal positif melalui potensi masing-masing,” ujar Edy , Selasa (11/9/2018).

Edy juga menjelaskan, bahwa Kirab dan Grebeg di inisiasi okeh warga Jawa di Kota Nunukan. Namun pria yang juga sebagai salah satu Perwira di Polres Nunukan tersebut menegaskan bahwa pihaknya tak menutup eksistensi dari etnis lain untuk terlibat.

“Lihat saja itu kesenian Reog yang ikut kirab. Walau keseniaanya adalah khas Jawa,tapi para penarinya ada dari etnis Bugis,Timor,Tidung dan etnis lain di Nunukan,” paparnya.

Usai Kirab,para peserta menggelar tasyakuran yang turut dihadiri pula sejumlah tokoh dari lintas etnis di Nunukan dan Wakil Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Nunukan Mayor Laut (P) M.Mustofa Wijaksono,S.H.

Mustofa Witjaksono disela-sela pemotongan tumpeng menyampaian apresiasinya kepada masyarakat Nunukan yang mesti terdiri dari berbagai latar belakang namun tetap harmonis dalam keberagaman. Ia berharap agar kebersamaan seperti itu tak hanya sebabatas serenonial saja namun realisasi dilangan akan lebih harmonis lagi apalagi Nunukan juga sebagai salah satu wilayah garda depan NKRI.

“Kita berharap, kegotong royongan yang menjadi tema kali ini benar-benar meresap menjadi nafas sehari-hari masyarakat Nunukan,” kata Mustofa.

Selain itu Mustofa berpesan kepada masyarakat Nunukan, agar memasuki tahun politik yakni Pemilu 2019 semua pihak dapat dengan bijak menyikapi. Menurutnya, Pemilu adalah pesta demokrasi yang artinya kegembiraan rakyat dalam memilih wakil-wakilnya.

“Seperti malam ini saja, walau berbeda partai, agama dan etnis tapi melebur dalam nuansa kebersamaan dan kegembiraan tanpa adanya saling hujat dan caci antar sesama,” pungkasnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR