Vonis 12 Tahun Penjara Untuk Gubernur Sulawesi Tenggara (non aktif)

Gubernur Sulawesi Tenggara (non aktif) divonis 12 tahun penjara (28/3) oleh Pengadilan Tipikor (Edy Santry)

Setelah lebih dari delapan jam menunggu, sidang putusan vonis terhadap mantan Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam akhirnya digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Jakarta Pusat. Hakim menjatuhkan vonis 12 tahun penjara untuk Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) nonaktif tersebut.

“Mengadili, menyatakan terdakwa telah terbukti sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut,” kata ketua majelis hakim Diah Siti Basariah ,Rabu (28/3/2018).

Majelis Hakim menyatakan bahwa Nur Alam terbukti keterlibatanya dalam praktik korupsi dengan memberikan persetujuan izin usaha pertambangan kepada PT Anugerah Harisma Barakah (AHB).

“Menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara, dan denda Rp 1 miliar dengan ketentuan apabila tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan 6 bulan,” ujar hakim dalam amar putusanya.

Majelis hakim dalam pertimbanganya juga menyatakan bahwa Nur Alam menyalahgunakan jabatannya sebagai Gubernur Sultra untuk memberikan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi. Hingga akhirnya Nur Alam mengeluarkan surat Izin Peningkatan IUP Ekplorasi menjadi IUP Operasi Produksi kepada PT Anugerah Harisma Barakah (AHB).

Hakim juga menyatakan Nur Alam terbukti menerima gratifikasi Rp USD 4.499.900 atau Rp 40.268.792.850 saat menjabat Gubernur Sulawesi Tengggara dari Richcorp International Ltd. Duit gratifikasi itu diterima melalui rekening polis asuransi AXA Mandiri.

Menanggapi vonis yang dijatuhkan kepadanya,Nur Alam menyatakan akan melakukan banding. Ia menganggap bahwa vonis hakim terlalu berat meski sebenarnya vonis yang dijatuhkan padanya enam tahun lebih ringan dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menutut agar dirinya dipenjara selama 18 tahun.

Nur Alam juga mengaku sangat kecewa karena pembelaan pribadi dan penasihat hukumnya ditolak oleh majelis hakim. Nur Alam beralasan dirinya telah banyak berjasa menjadi bagian dari aparatur negara yang mendedikasikan diri untuk bangsa dan negara.

“Saya menyatakan langsung banding. Semoga Yang Mulia dapat memahami rasa keadilan yang patut dipertimbangkan pada saya,” ujar Nur Alam seusai hakim membacakan amar putusan.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR