Warga Bantaran Sungai Terancam Longsor, Pemkot Bogor Malah Asyik Bikin Taman

Warga Sukasari I, Kota Bogor yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung setiap hari dilanda cemas karena ancaman longsor. Foto: eko/indeksberita

BOGOR – Abainya perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor pada warga Sukasari I yang berdomisili di tepi Sungai Ciliwung, mulai dikritisi masyarakat. Pasalnya, belakangan ini hampir setiap hari Kota Bogor diguyur hujan dan warga bantaran sungai pun kerap merasa cemas. Selain ancaman banjir, warga yang tinggal di bantaran sungai pun tiap saat terancam longsor.

“Hampir setiap sore, Kota Bogor selalu diguyur hujan. Warga Sukasari sudah ajukan ke Pemkot Bogor agar minta dibuatkan tanggul penahan longsor, apalagi setiap hujan deras, banjir kerap datang. Tapi, sampai saat ini masih belum terealisasi juga,” tukas Rahmat Heryana (41), ketua pemuda setempat.

Rahmat yang bertempat tinggal di Gang Rotan, Sukasari I, Keluarahan Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, tidak jauh dari bibir sungai ini mengaku cemas terhadap nasib masyarakat yang tinggal di bantaran sungai.

“Bisa dilihat kondisinya, bibir sungai sudah tergerus dan mendekati rumah penduduk. Kalau dilakukan pembiaran, akan jatuh korban. Saya mempertanyakan sikap pemkot yang tidak ada perhatian. Masak iya bangun taman tahun 2015 lalu bisa menghamburkan uang sampai Rp10 miliar, dan tahun ini kembali lagi bangun Taman Sempur senilai Rp2.2 miliar. Tapi, kepedulian sosial masyarakat malah tidak ada. Semestinya, pemkot mengutamakan membuat tanggul agar masyarakat nyaman,” ketusnya.

Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Komisi A, DPRD Kota Bogor, Ujang Sugandi mengaku keluhan warga juga sudah disampaikan kepadanya saat reses. Sebagai wakil rakyat, politisi asal Fraksi PFI Perjuangan mengaku mendukung keinginan warga agar pemkot segera turun tangan melakukan antisipasi banjir dan longsor di Kelurahan Sukasari.

“Semestinya, pemkot lebih peka dan mendahulukan kepentingan warga, dibanding membangun taman. Saya sebagai perpanjangan tangan masyarakat akan mengawal dan mengupayakan realisasi pembangunan tanggul,” tukas Ujang.

Ia mengatakan, di bantaran Sungai Ciliwung terdapat 200 lokasi pemukiman padat penduduk di bantaran sungai ciliwung di wilayah Kota Bogor. Disebutnya, hasil Survei Potensi Desa (PODES) 2014, terdapat 5.279 bangunan rumah pemukiman yang dihuni oleh 6.324 keluarga di  sepanjang bantaran sungai ini. Peruntukan rumah itu sebagian besar untuk hunian.

“Ada ribuan rumah warga yang berdiri ataupun menempel di tebing sungai, dan berada di pinggir sungai. Kondisi tanah yang didiami, tentu umumnya labil karena kikisan air sungai pada bagian bangunan mereka. Longsor dan banjir mengancam setiap waktu. Pemkot sudah semestinya turun tangan,” tutupnya.

Sayangnya, saat media online ini berniat akan mewawancarai Walikota Bima Arya Suagiarto, belum mendapat jawaban karena diketahui siang tadi sedang tidak berada di tempat.

Sebagai informasi, terhitung Juli 2016 lalu, Pemkot Bogor kembali membangun  tiga taman baru yaitu Taman Sempur, Taman Matematik dan Taman Lingkungan. Total nilai anggaran pembangunan taman tahun ini Rp. 2,9 miliar. Nilai anggaran pembangunan taman tahun ini turun dari Rp10 miliar di tahun 2015. Sementara, biaya untuk pembangunan Taman Sempur yakni Rp2,2 miliar.

Total saat ini Kota Bogor telah memiliki 32 taman, 10 di antaranya merupakan taman tematik yang dibangun selama tahun 2015 yakni Taman Bogor, Taman Corat-Coret, Taman Skatepark, Taman Air Mancur, Taman Heulang, Taman Ekspresi, Taman Kencana, Taman Peranginan, Hutan Kota, dan Taman Malabar. (eko)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR