Waspada Aksi Teroris, Bogor Siaga 1

Aparat kepolisian Polres Bogor disiagakan seiring dengan status Siaga 1 terkait bom di Mapoltabes Surabaya dan Mapolda Riau. (Eko Octa)

Wilayah Bogor sebagai satu daerah yang kerap menjadi teritorial teroris, kini siaga 1. Status ini menunjukan peningkatan kewaspadaan, guna langkah antisipasi dalam menjaga wilayah dari gangguan Kamtibmas.

Polres Bogor dan Polsek jajaran siaga 1, hal ini terkait TR Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Agung Budi Maryoto pasca pengeboman di tiga gereja di Surabaya dan Mapoltabes Surabaya. Kapolres Bogor, AKBP Andi M Dicky Pastika dalam rilisnya yang diterima wartawan melalui Humas Polres Bogor mengatakan, teroris adalah perbuatan yang dilarang oleh seluruh agama. Teroris adalah musuh bersama. Maka itu, orang nomor satu di jajaran kepolisian Kabupaten Bogor ini mengajak rapatkan barisan untuk melawan terorisme.

“Bila ada disekitar kita ada orang-orang yang dicurigai agar lapor kekepolisian terdekat atau Bhabinkamtibmas. Untuk pendatang wajib lapor 1×24 jam,” kata AKBP Dicky, baru-baru ini.

Pengamanan dan patroli yang ditingkatkan di sejumlah tempat Ibadah dan keramaian, merupakan prioritas pengamanan Polres Bogor, guna melakukan penebalan pengamanan dan patroli.

Kapolsek Kemang, Polres Bogor, Kompol Ade Yusuf Hidayat menambahkan, seluruh unsur Muspika Kemang melakukan operasi kependudukan. Operasi ini langsung menyisir pengelola dan pemilik kontrakan. Langkah ini guna mendeteksi bentuk kejahatan, sebagai tempat persembunyian pelaku pidana teroris dan antisipasi penimbunan petasan dan Miras.

Kontrakan yang disisir petugas diwilayah Desa Pondok Udik yakni milik Kim Anyoh, Herawati, Davit, dan kontrakan Icih.  “Ada 21 pengontrak, 7 tanpa Identitas alias tak memiliki KTP,” kata Kompol Ade Yusuf.

Sebelumnya, Setara Institute menyebut kota Depok dan Bogor menjadi basis kelompok radikal. Indikasi itu terlihat dari penangkapan beberapa terduga teroris.

“Klasifikasi Depok sebagai kota intoleransi lebih terkait sebagai penyangga dan daerah transit, yang memungkinkan aktor-aktor politik teroris bersembunyi,” kata peneliti Setara Insitute, Sudarto Rabu (16/5/2018).

Dia menilai narasi radikalisme muncul sebagai perlawanan terhadap hegemoni Barat dan Amerika. Beberapa kelompok yang dianggap intoleran, menurut Setara, menolak definisi terorisme karena dianggap buatan barat untuk menyudutkan Islam.

“Bagi sekelompok masyarakat di Depok, teroris sejati itu Barat dan Amerika yang merebut ladang-ladang minyak milik negara Islam,” katanya.

Sudarto menjelaskan, penelitian yang dilakukannya dengan metode face to face interview. “Saya ikut aktivitas mereka di dalam masjid dan melakukan wawancara informal,” ujar dia.

Selain Depok, wilayah Bogor juga dinilai sebagai arena inkubasi dari radikal menuju teroris. Menurut peneliti terorisme Muhammad Syauqillah, fakta-fakta kekerasan aktor terorisme memang berasal dan berlatih di Bogor menunjukkan kota itu menjadi salah satu pusat radikalisasi efektif.

Setara Insititute melansir setidaknya ada 20 pelaku terorisme yang memiliki jaringan di Bogor, dari tahun 2002 hingga 2014.
“Pada wilayah Bogor, gerakan radikalisme disebarkan oleh kelompok ‘Salafi Jihadi’. Kelompok ini mudah mengkafirkan kelompok lainnya,” kata dia.

Syauqillah mengaku masyarakat perlu berhati-hati untuk menunjuk kelompok Islam sebagai teroris. Meskipun menyoroti kelompok ‘salafi’, dia mengaku tak semua kelompok salafi adalah radikal.

“Kita tidak bisa menggeneralisir bahwa kelompok ‘salafi’ berhaluan keras. Banyak pula dari kelompok tersebut yang menerima NKRI,” kata dia.

Di tempat yang sama, Peneliti Setara Institute Bonar Tigor Naipospos juga menegaskan sikap untuk menolak menyamaratakan gerakan Islam sebagai teroris. “Kita harus berhati-hati di sini kalau tidak kita akan miss leading,” ujar dia.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR