Webinar UMAHA : Ketahanan Ekonomi Keluarga Solusi Menghadapi Pendemi Corona

Pemberian oleh Mapala UMAHA pada warga terdampak pandemik covid 19

Untuk menghadapi pandemi corona , semua pihak harus bergotong royong dan tidak hanya menunggu kerja Pemerintah. Akademisi tetap harus kritis dan tentu bersifat solutif. Kerelawananan sosaial harus ditingkatkan dan harus dikembangakan tidak hanya atas dasar hubungan darah (kerabat) saja ataupun juga atas dasar komunitas, domisili, profesi dan juga hobi.

Demikian diungkapkan Ketua Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Provinsi. Jawa Timur, Dr. Pinky Saptandari dalam diskusi “Ketahanan Ekonomi Keluarga dan Solusi Menghadapi Pendemi Corona” oleh Program Studi Manajemen Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA) melalui di Zoom video conference, Sabtu (6/6/2020). Menurut Pinky, kerelawanan sosial sangat perlu untuk menguatkan jarring social dalam menghadapi pandemi yang banyak mengakibatkan ekonomi keluarga terpuruk dan juga untuk penguatan ekonomi lokal.

“Keluaraga sebagai unit terkecil jangan hanya sebegai konsumen saja, harus mulai kearah yang produktif dan tentu mesti bisa memisahkan mana kebutuhan dan mana keinginan. Ini sangat penting untuk mempertahahankan ekonomi keluarga,” tutur Pinky.

Lebih lanjut Pinky mengingatkan agar tidak melupakan kelompok lansia dan kaum disabilitas. Selain itu, menurutnya, banyak menyebabkan gangguan jiwa berat (cabin fever) dan kekerasan dalam rumah tangga naik 25%-33%. Hal ini karena jenuh, capek mengerjakan pekerjaan domestik karena di rumaha saja dan takut keluar rumah di tambah dengan kondisi ekonomi keluarga yang menurun.

“Harus ada pendidikan atau penyadaran dalam keluarga agar kita tidak perlu takut, corona ini harus kita lalui, sepanjang menjaga protokol kesehatan kita tidak perlu cemas dan kita tidak mungkin selamanya bersembunyi. Tetap beraktivitas dan jangan lupa menjaga protocol kesehatan,” tegasnya.

Sedangkan Wakil Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jawa Timur Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Rukyat Rahmawan menilai bahwa dengan memperkuat silaturahim semua elemen masyarakat, pasti pademi akan dapat di atasai. Menurutnya, dengan jumlah 74.957 desa dan 8.490 kelurahan di Indonesia ia meyakini bahwa dengan sosial kapital pasti mampu mengalahkan corona.

“Desa memiliki modal sosail yang kuat seperti selamatan dan tahlilan, juga kekerabatan. Selain itu, dengan kewenangan yang ada di undang undang desa kita mempunya basis kewenangan dan struktur yang lebih siap dibandingkan dengan kelurahan,” ujarnya.

Sementara itu Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Anik Maslacha menilai bahwa ketahanan pangan adalah salah satu hal yang dapat mengatasi pademi covid – 19. Mnurutnya, saat ini Propinsi Jawa Timur memang telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) terkait dengan ketahanan panga. , Namun ia menegaskan bahwa haris ada pengtkerucutan lagi menjadi program dan kegiatan yang lebih fokus termasuk gerakan pangan lokal.

“Masyarakat Desa khususnya petani harus lebih terarah dan berkelanjutan selain menjaga kualitas hasil panennya. Dengan bonus demografi yang memiliki 75% angkatan kerja (Jawa Timur) sektor pertanian harus menjadi perhatian khsuusnya anak muda dan milenial karena penurunannya pertahun sekitar 8%,” katanya.

Terkait diskusi bertema Ketahanan Keluarga tersebut , Kaprodi Manajemen UMAHA, Wulan Purnamasari mengungkapkan bahwa tema tersebut adalah kelanjutan dari sebelumnya tentang ketahan pangan. Hal tersebut menurut Wulan adalah bentuk konsistensi atas komitmen dari UMAHA dalam mengatasi pademi covid – 19.

“Tidak hanya itu, kita keluarga besar UMAHA sebelumnya juga sudah membagikan 5.000 bibit tanaman ke masyarakat terdampak dengan harapan bisa meringankan beban ekonomi masyarakat dan menguramgi kejenuhan selama di rumah saja. Dengan berkebun di pekarangan rumah akan mengurangi lebih fress dan mengurangi kejenuhan selama work from home,” ujar Wulan.

Senada dengan itu Kaprodi Kewirausahaan UMAHA, Darno menyampaikan bahwa pihaknya sudah mengarahakan potensi wirausaha mahasiswa ke bidang pertanian. Menurutnya saat ini Mahasiswa UMAHA dan Anak – Anak Milenial sudah ada yang berbisnis sayur hidroponik . Darno menegaskan , walaupun celah pasarnya belum terlalu lebar segmen ini terus meningkat.

“Ini akan menjadi solusi dari pada import pangan dan sayur serta mengantisipasi penurunan jumlah petani muda yang rata rata 8% pertahun penurunanannya. data pertumbuhan sektor pertanian kwartal 1 tahun 2020 ini 0% tahun 2019 sekitar 1%, ini ironis sekali dengan serapan tenaga kerja yang tinggi sekitar 30%, sementara sector lain di atas 2 % bahkan kontruksi ahmpir 3%. Untuk itu, kita akan terus bekerja sama dengan pemangku kepentingan dan profeisonal untuk memberikan altiernatif solusi ke masyarakat kita terang kapordi kewirausahaan yang juga ketua komite tetap bidang fiskal KADIN Jawa Timur,” papar Darmo.

Diketahui, peserta diskusi tersebut mencapai 200 orang dari berbagai kalangan dari akademisi, maupun masyarakat umum. Peserta pun dari berbagai daerah antara lain Aceh, Sumatera Barat, Kepulauan Riau (Kepri ), Kalimantan Barat, Lampung hingga Sulawesi Selatan.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR