WISATA WISUDA JOGJA

Liburan Natal dan Tahun Baru 2016 usai sudah. Yogyakarta kembali menjadi kota pendidikan. Keramaian wisatawan kini tinggal di beberapa lokasi seperti Malioboro, kraton, tugu, dan Prawirotaman. Hotel dan penginapan tak lagu penuh sesak. Penginapan atau resor seperti Rumah Mertua, Omah Bude, Rumah Kakak, Omah Eyang, Omah Lawas, Omah Dusun, kembali normal, termasuk harganya.

Namun, tahukan anda, sesungguhnya, bagi Jogja, wisatawan sejati adalah para mahasiswa yang memilih studi di kota pendidikan itu. Mereka datang bergelombang, setidaknya 300 ribu pertahun dan mengisi kampus-kampus di kota ini yang jumlahnya sekitar 110. Para mahasiswa tak tinggal di hotel dan selama seminggu makan di restoran bermerek. Mereka tinggal berbaur di kost-kost sekitar kampus atau asrama mahasiswa daerah (kini mulai marak apartemen mahasiswa). Mereka inilah yang menghidupi kampus, kost, angkringan, kafe, karaoke, londri, fotokopi, toko buku dan usaha kecil lainnya.

Masa tinggal mahasiswa di Jogja tak sesingkat wisatawan biasa yang maksimal seminggu. Para mahasiswa tinggal di kota ini minimal empat tahun sampai tujuh tahun. Kalau mahasiswa tergolong MA (mahasiswa abadi), Mapala (mahasiswa paling lama) atau mahasisa, masa tinggalnya jauh lebih lama. Merekalah yang, meminjam slogan koran “Kedaulatan Rakyat” migunani tumraping liyan (berguna bagi orang lain).

Di Jogja, beberapa kawasan tumbuh dan berkembang (secara bisnis) setelah ada kampus berdiri di situ. Kawasan Pogung, Sagan, Demangan, dan Gejayan hidup karena ada UGM, UNY dan Sanata Dharma. Kawasan Babarsari hidup karena ada Universitas Atmajaya dan UPN. Kawasan jalan Kaliurang KM 20 kini bergairah karena ada Universitas Islam Indonesia. Juga kawasan yang kini paling seksi, Seturan, karena ada beberapa kampus di situ.
Wisata Wisuda:

Pada akhir studi di Jogja, para wisatawan mahasiswa ini diwisuda di kampus masing-masing. Ada yang setahun dua kali (seperti STPMD “APMD”) ada juga yang setahun wisuda empat kali. Setiap wisuda akan hadir dua orang tua dan calon suami/istri dan keluarga lainnya. Mereka juga butuh kendaraan, penginapan, kuliner, foto studio, sedikit jalan-jalan sampai perlu ke salon rias segala.

Sekali lagi, sebagai kota pendidikan dan wisata, sesungguhnya wisatawan sejati adalah para mahasiswa.Saya tak bisa membayangkan Jogja tanpa mahasiswa.

Bagi keluarga wisudawan yang sempat berjalan-jalan, perlu diketahui nama-nama jalan di Jogja banyak yang disingkat, sehingga cukup membingungkan. Jl. Paris artinya Jl. Parangtritis. Jl. Monjali singkatan Jl. Monumen Jogja Kembali. Jakal maksudnya jalan Kaliurang. Jamal, jalan Magelang, bukan jalang. Jawat, jalan Wates. Jago, jalan Godean. Kalau anda bertanya arah lalu dijawab, “Nanti kalau ketemu Bang Jo belok kiri.” Anda jangan bayangkan itu nama orang semacam Pak Ogah. Bang Jo itu abang Ijo kata lain dari lampu lalulintas, Harusnya Bang Joning. Di Bang Jo kadang ada tanda yang membingungkan. Ke Kiri Jalan Terus. Apakah maksudnya kendaraan yang akan kekiri harus berjalan terus (lurus)?

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR