Xenophobia

Saat remaja saya sangat membenci Amerika justru karena menonton film Chuck Norris. Bagaimana tidak benci? Amerika digambarkan Negara yang Paling Benar, Polisi Dunia, Pengawal Negara-negara bebas (Demokratis) meskipun faktanya tutup mata atas kebengisan Pinochet dan Somoza. Sedangkan orang-orang Arab yang dijadikan musuh Chuck Norris digambarkan sebagai bangsa yang bengis dan jahat tapi kalau perang gampang banget matinya. Chuck Norris seorang mampu membantai pasukan Arab yang berkompi-kompi.

Setelah agak dewasa saya mulai berpikir tidak ada satu pun bangsa di dunia yang 100 persen Malaikat dan 100 persen Setan. Setiap bangsa, dan tidak bisa digeneralisir dengan stereo-type tertentu, memiliki kelebihan dan sekaligus kelemahan masing-masing.

Bukan asal-usul ras yang membuat bangsa yang satu lebih maju dari bangsa lainnya, melainkan lebih dikarenakan akumulasi modal yang membuat suatu bangsa lebih leluasa membangun tekhnologi dibandingkan bangsa lainnya. Martabat kemanusiaan lebih penting menjadi perhatian saya ketimbang politik identitas yang saya yakini sebagai kesadaran palsu.

Toh demikian ada hal yang mirip di setiap bangsa. Umumnya mereka menyadari kebangsaannya setiap menghadapi situasi sulit. Patriotisme dan Nasionalisme, bahkan Rasisme, berbiak subur ketika orang-orang yang merasa penduduk asli sulit mengakses sumber penghidupan. 

Maka dengan modal sentimen anti Komunis, anti Semit dan superioritas bangsa Aria, partai Nazi di bawah kepemimpinan Kopral Adolf Hitler yang semula partai gurem di bawah 6% berhasil memenangkan Pemilu Juli 1932 dengan suara 37,4 %. Namun Hitler masih gagal meraih kursi Presiden karena kalah dengan calon petahana, Presiden Hindenburg.

Gagal meraih jabatan Presiden Hitler terus berjuang meraih jabatan Kanselir. Namun Presiden Hindenburg  bergeming. Atas desakan sejumlah pengusaha yang gulung tikar, terlebih Partai Komunis Jerman menjadi ancaman nyata kelangsungan usahanya, Hindenburg akhirnya menyerah. Dengan ditambah dukungan partai-partai sayap kanan yang radikal Adolf Hitler diangkat menjadi Kanselir Jerman. Pada Maret 1933 Partai Nazi berhasil meraup suara 43,9% yang semakin mengukuhkan legitimasinya sebagai pemimpin politik di Jerman.

Apa yang terjadi setelah Hitler memenangkan gagasan piciknya yang diterima oleh 43,9% warga negaranya? Eropa menjadi kuburan raksasa. Setting sosial yang sukses memenangkan Hitler dan Mussolini adalah ketika Kapitalisme mencapai titik jenuh. Kesengsaraan merebak dimana-mana. Malaise, sebut Bung Karno di sebuah artikel yang kumpulannya diterbitkan menjadi buku Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I.

Kini saat Dunia dibekap krisis yang akut, bangsa Inggris Raya (Great Britain) baik yang masih di bawah panji-panji United Kingdom maupun yang sudah mendeklarasikan diri sebagai Republik menyatakan Keluar dari Uni Eropa. Britain Exit (Brexit) bukan hanya didukung kelas pekerja Blue Collar, melainkan juga kaum White Collar yang terancam jatuh pailit. Keberadaan Inggris di Uni Eropa dianggap membebani perekonomian Inggris. Maka, Britain First menjadi slogan ampuh yang membius 52 persen warga Inggris Raya untuk keluar dari Uni Eropa.

Di Amerika Serikat Donald Trump yang Anti Islam dan Imigran memiliki peluang yang besar menjadi pengganti Obama. Jajak pendapat terakhir, Donald Trump dan Hillary Clinton sama-sama didukung oleh 40 persen warga Amerika. Krisis ekonomi yang sebenarnya sebagai keniscayaan dari stagnasi pertumbuhan ditimpakan kepada Imigran gelap asal Mexico (Mestiso). Trump berkampanye akan membuat tembok raksasa di setiap perbatasan, Mestiso dan Muslim adalah musuh utama. Gagasan Trump ternyata mengantarkannya menjadi Calon Presiden yang diusung oleh Partai Republik. Apa jadinya bila Trump menjadi Presiden Amerika?

Penyakit demokrasi yang semula hanya melahirkan Oligarch dan negara tunduk kepada kepentingan orang-orang kaya (Plutokrasi) akan bertambah parah. Terlebih di tengah mandegnya pertumbuhan yang memicu Krisis Ekonomi berkepanjangan.

Gagasan-gagasan fasistik akan mudah diterima oleh mayoritas dari masing-masing penduduk suatu negara. Demokrasi sebagai mekanisme suksesi yang meskipun banyak kelemahan namun paling masuk akal sangat rentan dibajak oleh gagasan-gagasan yang sesungguhnya membunuh demokrasi itu sendiri.

Di tengah situasi seperti itu akankah kita menjadi pelanduk diantara pertarungan Para Gajah (Amerika, Inggris, Uni Eropa, China dan Rusia). Ataukah kita akan pura-pura tunduk kepada satu negara adi daya namun bermain mata dengan negara adi daya lainnya sebagaimana yang saya baca dari Politik Luar Negeri Presiden Joko Widodo. Sialnya, negara-negara Super itu sudah pasti tidak goblok dan naif. Tapi itulah tantangan yang sudah pasti dihadapi oleh siapa pun pemerintahan di Republik ini.

Situasi yang sudah di depan mata itu mestinya menjadi tantangan kita bersama untuk lebih solid menjadi sebuah bangsa, bukan justru cakar-cakaran karena diantara elite pemimpinnya ada yang jadi calo kepentingan Amerika, ada yang jadi calo kepentingan China dan seterusnya. 

Tapi bagaimana caranya terus terang saya tidak tahu, karena faktanya sejak Orde Baru jiwa kita sudah terbelah menjadi bangsa Komprador, calo kepentingan asing, tidak lebih tidak kurang hanya mencari Riba dalam setiap kegiatan ekonomi dan lainnya yang melibatkan orang banyak.

Maka Xenophobia (anti apapun yang berbau asing) akan mendapatkan habitatnya. Gejala itu bukan hanya tumbuh di Indonesia, melainkan juga bersemai subur di negara-negara lainnya, bahkan di negara yang dianggap maju seperti Inggris dan Amerika. Singkat cerita, gagasan Xenophobia, chauvinistik akut dan rasis, akan berbiak bak alang-alang yang berurat-berakar di sebagian besar masyarakat di hampir setiap negara.

Amerika akan terus memproklamirkan diri sebagai bangsa paling perkasa. Sebagai pemenang tunggal peradaban. Tidak peduli apakah sikapnya itu akan memicu anti-pati dari bangsa-bangsa lain di dunia. Suasana batinnya kira-kira sama seperti saat saya membenci Amerika hanya karena melihat Chuck Norris yang tengil dan Sok Hebat itu !!!

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR